JUMAT, 5 Jumadilawal 1448 H / 15 Oktober 2026 M
Oleh Dr. Maulana La Eda, Lc., M.A.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Wasiat terbesar Allah kepada para nabi dan seluruh umat manusia adalah takwa yang wajib direalisasikan dalam dua unsur: konsistensi ibadah kepada Allah dan kemuliaan akhlak kepada sesama makhluk. Tak ada takwa tanpa ibadah, dan tak ada takwa tanpa akhlak. Maka marilah kita semua selalu bertakwa, baik dalam kondisi senang atau sedih, sulit atau mudah, sehat atau sakit, sampai kita menghembuskan napas yang terakhir.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Beberapa hari ini, udara kita diselimuti oleh asap yang tak bisa kita pindahkan dan hindari. Bahkan, sebagian saudara kita di beberapa wilayah Kalimantan dan Maluku mengalami musibah kebakaran. Mereka bangun tidur dengan pemandangan yang gelap: matahari pucat seperti piringan merah, jarak pandang pendek, dan udara berbau hangus. Banyak saudara-saudara kita tak bisa mencari rezeki, kehilangan harta dan pertanian, bahkan banyak anak-anak yang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). 

Tak diragukan bahwa ini adalah musibah nasional. Musibah yang menuntut kita untuk kembali merenungi kelemahan kita dihadapan kekuasaan Allah Ta’ala. Seperti semua musibah, ia mengandung dua pertanyaan sekaligus: kenapa musibah ini ada, dan apa yang Allah inginkan kepada kita dalam musibah ini? Mari kita jawab hari ini.

Pertama, kenapa musibah ini ada?

Allah berfirman dalam surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Perhatikan kalimat terakhirnya: la’allahum yarji’un, agar mereka kembali. Allah tidak sedang menghukum untuk membinasakan. Tetapi, Allah sedang mengajak kita kepada ketaatan dan agama-Nya.

Tidak semua titik api disulut dengan sengaja. Ada kemarau panjang, ada gambut kering yang mudah menyala. Tetapi, banyak api itu berawal dari korek yang sengaja dinyalakan, dari puntung rokok yang dibuang sembarangan, dari pembukaan lahan liar serampangan, dari keserakahan yang menghitung untung dan menutup mata terhadap bencana yang mereka timbulkan. Dan ketika api membesar, yang menjadi korban adalah orang-orang dan anak-anak yang tak bersalah.

Jadi, kebakaran yang terjadi adalah akibat dosa-dosa manusia. Mungkin ada yang mengatakan bahwa semua itu karena kemarau panjang. Ketahuilah, bahwa kemarau panjang tidak terjadi kecuali karena hati dan jiwa manusia kering dari istigfar dan ketaatan serta jiwa mereka tandus dari zikir dan ayat-ayat suci. Musibah ini tidak muncul kecuali karena banyak dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan. Allah lantas menghukum kita agar kita segera kembali kepada-Nya, kepada agama-Nya, kepada Al-Quran.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Kedua, apa yang Allah inginkan di balik bencana ini?

Selama asap menyelimuti kota, kita jadi sadar akan sesuatu yang biasanya tidak kita sadari: napas. Setiap tarikan napas ternyata tidaklah gratis. Bahkan, sebelum asap datang pun napas itu bukan milik kita. Ia dipinjamkan, dan suatu hari, napas kita ini akan ditarik kembali oleh Allah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Allah hendak mengingatkan kita tentang kematian yang sangat mudah bagi Allah untuk merealisasikannya pada diri kita lewat penghilangan napas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللََّذَّاتِ؛ فَمَا ذَكَرَهُ عَبْدٌ قَطُّ وَهُوَ فِيْ ضِيْقٍ، إِلَّا وَسَعَهُ عَلَيْهِ 

Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (yaitu kematian). Tidaklah seorang hamba yang kesulitan mengingatnya kecuali akan membuat dirinya dimudahkan (segala urusannya).” (HR Ibnu Hibban: hadis hasan).

Juga dengan mengingat kematian, kita akan banyak beristigfar dan bertobat kepada Allah. Dengan istigfar dan tobat ini, rahmat Allah yang kita tunggu-tunggu berupa hujan, sirnanya bencana, dan kesejahteraan hidup akan disegerakan, sebagaimana peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.

Artinya: "Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian', sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, mengadakan untuk kalian kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai'." (QS. Nuh: 10-12).

Dalam ayat lain, Allah mengingatkan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185)

Camkan bagian akhir ayat ini. Kemenangan sejati bukan lolos dari api dan asap dunia. Kemenangan sejati adalah dijauhkan dari api neraka.

Agar bencana ini segera berlalu, marilah memperbanyak istigfar dan tobat kepada Allah.

Disamping itu, musibah berupa bencana api dan asap ini perlu ditawakkali kepada Allah karena tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Dia. Sehebat apa pun teknologi kita, kita tidak akan mampu untuk menghilangkannya. Marilah meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mengucapkan ketawakallannya kepada Allah ketika dilemparkan dalam api raksasa, beliau membaca doa:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik penolong.” (HR. Bukhari)

Lalu Allah berfirman: “Wahai api, jadilah dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya: 69). 

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Bencana asap ini mengingatkan kita juga dengan dukhan (asap raksasa) yang akan muncul saat mendekat kiamat sebagai salah satu tanda hari kiamat yang Allah sebutkan dalam Al-Quran:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ ۝ يَغْشَى النَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi seluruh manusia. Inilah azab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan: 10-11)

Asap raksasa ini Allah turunkan sebagai siksaan bagi orang-orang yang kafir dan durhaka kepada Allah. Ali bin Abu Thalib mengatakan, “Tanda kiamat berupa asap ini belum datang. Ketika datang, ia akan membuat orang mukmin seperti orang pilek, dan menghembus orang kafir sampai binasa.” (Tafsir Ibn Katsir: 7/249). Ibnu Umar juga berkata, “Akan keluar asap, lalu orang mukmin terkena imbasnya, hingga seperti orang pilek. Lalu asap ini masuk ke telinga orang kafir dan munafik, sehingga kepala mereka seperti kepala hewan panggang. (Tafsir at-Thabari: 22/17).

Tentunya, dukhan atau asap raksasa ini merupakan tanda kiamat kubra saat mendekati hari kiamat. Adapun asap yang menimpa kita saat ini adalah tanda kiamat sugra (kiamat kecil), sebagai pengingat agar kita segera meninggalkan segala bentuk maksiat dan kembali kepada Allah Ta’ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Jamaah sekalian, setelah mengingat ajal dan mengakui kesalahan, tinggal satu pertanyaan: apa yang harus kita kerjakan sepulang dari masjid ini?

Pertama, marilah terus berdoa memohon hujan dan rahmat dari Allah Ta’ala. Nabi ﷺ pernah meminta hujan di masa paceklik dengan doa:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila pengurus masjid dan masyarakat sepakat, mari kita melakukan shalat istisqa’ seperti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bila sudah dilakukan sebelumnya, maka para ulama tetap menganjurkan agar shalat istisqa’ ini diulangi; karena istisqa’ adalah doa, sehingga dianjurkan untuk terus diulangi sampai Allah menurunkan hujan sebagai penghilang musibah.

Kedua, marilah kita semua menjaga kesehatan. Kurangi aktivitas di luar rumah yang tak urgen, dan jangan lupa untuk memakai masker, agar tetap merasakan nikmat sehat dan terhindar dari penyakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada anugerah yang lebih besar setelah kalimat ikhlas (tauhid) dibanding kesehatan. Sebab itu, mohonlah kesehatan kepada Allah.” (HR Nasai dan Ahmad: hadis hasan).

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Download PDFnya di https://bit.ly/BencanaAsapDanAlarmKematian