JUMAT, 8 Rabiulawal 1448 H / 21 Agustus 2026 M
Oleh Dr. Maulana La Eda, B.A., M.A.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Kebahagiaan hakiki hanya terdapat dalam balutan takwa atau kesalehan, yang terdiri dari dua unsur utama, yaitu: rajin beribadah kepada Allah dan berakhlak mulia kepada sesama makhluk. Sebab itu, marilah senantiasa memperbaiki dan meningkatkan ibadah dan akhlak kita, agar kita menjadi insan-insan yang bahagia di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: "Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sungguh Kami pasti akan beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl: 97).
Di antara bentuk amal saleh dan takwa tertinggi adalah cinta kepada sosok Sang Baginda Muhammad ﷺ. Karena mencintainya adalah bagian urgen keimanan, puncak kesalehan, dan gerbang utama menuju cinta Allah. Rasulullah ﷺ bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ، وَوَالِدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Tidak sempurna iman seorang di antara kalian sampai diriku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari: 32 dan Muslim: 33).
Bahkan, hidup ini tak akan bahagia dan iman kita tak akan indah kecuali dengan mencintainya; sebagaimana dalam hadis: “Ada tiga perkara yang apabila semuanya ada pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. Di antara tiga perkara itu adalah: cintanya kepada Allah dan rasul jauh lebih besar daripada cinta kepada selainnya.” (HR. Bukhari: 16 dan Muslim: 43).
Sebab itu, marilah mencintai beliau sepenuh hati, apalagi beliau juga sangat mencintai kita semua. Bahkan, sangat rindu berjumpa dengan kita, para umatnya. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS at-Taubah: 128).
Akan tetapi, Wahai kaum muslimin yang berbahagia …
Ekspresi kecintaan kepada beliau tidak boleh melewati batas-batas syariat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Ungkapan cinta kepada beliau harus tetap sesuai Sunnah dan petunjuk yang beliau ajarkan. Banyak kaum muslimin yang mengaku cinta kepada beliau, tetapi jauh dari Sunnah dan ajaran beliau. Bahkan, banyak di antara mereka yang memperingati maulid/hari lahir beliau dengan pagelaran musik, joget, serta campur-baur laki-laki dan perempuan. Ini merupakan kemaksiatan terhadap Allah dan pelanggaran terhadap Sunnah beliau.
Meskipun kita sangat mencintai Nabi, tetapi mengkhususkan hari maulid untuk memperingatinya dan membuat acara khusus untuk itu, merupakan ritual yang tidak dicontohkan oleh beliau, juga tidak dicontohkan oleh para salaf umat ini. Karena bagi kita, ekspresi kecintaan kepada Nabi kita adalah dengan mengikuti Sunnah beliau. Cinta kepada beliau harus muncul dalam ibadah dan akhlak kita. Kita beribadah sesuai ibadahnya dan kita berakhlak sesuai akhlaknya. Jangan mengaku mencintai Nabi, tetapi masih lalai dalam beribadah, dan akhlak kita masih rusak.
Jadi, meskipun kita ini tidak memperingati maulid Nabi, tetapi cinta kita harus lebih besar dibanding mereka yang hanya sibuk mengikuti acara maulid tapi tidak mau tunduk pada ajaran dan Sunnah beliau. Untuk itu, marilah mengekspresikan cinta kita kepada beliau dengan 4 hal:
Pertama: Memuliakan, mempraktikkan, dan membela Sunnah yang beliau ajarkan.
Mempraktikkan Sunnah beliau merupakan bukti utama kita mencintainya. Beliau telah memotivasi kita semua dalam banyak hadisnya untuk berpegang teguh dengan Sunnahnya. Di antaranya adalah sabdanya:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Artinya: “Hendaklah kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah khulafaur rasyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah Sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud: 4607 dan Tirmidzi: 2676).
Bahkan, setiap orang yang tidak menyukai Sunnah yang beliau ajarkan, tidak akan dianggap sebagai umat beliau; sebagaimana dalam sabdanya:
مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى
Artinya: “Siapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan dari golongan saya”. (HR. Bukhari: 5118).
Kedua: Meneladani akhlak dan perilaku beliau.
Akhlak dan perilaku mulia beliau wajib kita teladani dan jadikan sebagai patokan dalam kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini menjadi asas utama dalam meneladani sosok Rasulullah ﷺ dalam ucapannya, perilakunya, dan kondisinya. Sebab itu, Allah memerintahkan manusia untuk meneladaninya pada saat beliau dalam perang Ahzab, dalam hal kesabarannya, keteguhannya, kesungguhannya, dan penantian kemenangan dari Tuhannya.” (Tafsir Ibni Katsir: 3/475)
Beliau sebagai Nabi dan sosok teladan yang dipilih langsung oleh Allah -Ta'ala- tentunya memiliki sifat dan perilaku yang istimewa dan penuh keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan beserta lika-likunya. Dalam salah satu hadis, beliau bersabda:
إنما بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sungguh aku diutus menjadi Rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).” (HR Ahmad: 8952, dan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 273).
Dalil-dalil agung ini menunjukkan bahwa beliaulah yang paling berhak dijadikan profil percontohan untuk urusan kehidupan. Karenanya, memang pantas bila Allah mewajibkan kita untuk selalu taat mengikuti perintah dan perilaku beliau, bahkan menganugerahkan orang-orang yang meneladani dan taat kepadanya sebagai orang-orang yang mendapatkan kemenangan dan surga-Nya
Ketiga: Menjauhi kemaksiatan dan bid’ah yang beliau tidak ajarkan.
Cinta pada Nabi tak akan sempurna dan terwujud kecuali dengan menjauhi segala yang beliau larang dan ibadah-ibadah bid’ah yang tidak beliau perintahkan. Inilah yang beliau peringatkan dalam sabdanya: “Jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” Ironisnya, bid’ah-bid’ah yang berkembang ini banyak sekali berkaitan dengan diri Nabi kita, semisal perayaan-perayaan maulid yang berlebihan, padahal beliau sendiri telah memperingatkan kita semua dalam sabdanya:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
Artinya: “Janganlah kalian melampaui batas dalam menyanjungku, sebagaimana kaum Nasara melampaui batas dalam menyanjung Nabi ‘Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah seorang hamba. Oleh karena itu, katakanlah (bahwa aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Hadis ini sebagai larangan kepada umat Islam agar tidak berlebihan memperlakukan Nabi Muhammad ﷺ dengan melakukan pujian batil atau perayaan yang tidak beliau contohkan. Hal ini telah terjadi pada kaum Nasrani, di mana mereka melebihkan pujian kepada Isa sehingga diangkat sebagai anak Tuhan, dan melakukan berbagai perayaan untuk memperingati hari lahirnya, kenaikannya ke langit, dan hari wafatnya.
Keempat: Memperbanyak selawat dan salam kepada beliau.
Di antara hak Nabi yang mesti kita tunaikan adalah memperbanyak selawat dan salam kepada beliau. Bahkan, ini merupakan perintah Allah Ta’ala:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) .
Berselawat kepada beliau tidak hanya menunjukkan kecintaan besar kepada beliau, tidak hanya memberikan kita 10 rahmat sebagaimana dalam hadis popular, tetapi juga akan memberikan kedekatan dengan sosok beliau di hari kiamat. Beliau bersabda:
أَوْلَى النَّاسِ بِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
Artinya: “Orang yang paling utama/tinggi derajatnya di hadapanku pada hari kiamat kelak adalah orang yang paling banyak berselawat untukku ”. (HR Imam Tirmidzy: "hadis hasan").
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Marilah mengintropeksi diri kita. Sudahkah kita semua mencintai Nabi kita dengan sebenar-benarnya cinta? Sudahkah kita mempraktikkan 4 pembuktian cinta kepada beliau?
Marilah kita selalu memuliakan dan mempraktikkan Sunnahnya, marilah meneladani akhlak dan perilaku mulianya, marilah menjauhi kemaksiatan dan bid’ah yang beliau larang, serta marilah memperbanyak selawat dan salam kepada beliau. Semoga kita semua bisa mendapatkan syafaat beliau dan dapat duduk bersamanya di dalam surga Allah Ta’ala. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Selawat kepada Nabi adalah doa sekaligus senjata ampuh bagi setiap mukim, yang sangat dianjurkan pada hari Jumat. Maka marilah kita memperbanyaknya di hari Jumat ini, juga di hari-hari lainnya.
Tak ada mukmin yang merugi karena banyak berselawat, bahkan sebaliknya, orang yang merugi adalah yang malas-malasan mengirimkan selawat kepada baginda Nabi kita, karena setiap selawat adalah keuntungan dan faktor keselamatan, karena selawat adalah zikir pemberi kebahagiaan, pemberi solusi dari kesulitan, penghapus dosa, pencetus rahmat, dan peninggi derajat hamba. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu yang berencana memperbanyak shalawat:
إِذَنْ تُكْفَى هَمُّكَ وَيُكْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ
Artinya: “Kalau demikian, maka kesusahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni.” (HR Tirmizi: 2457 dengan sanad hasan).
Marilah kita pada khutbah kedua ini, bershalawat dan memohon kepada Allah agar Dia memberikan kita semua hidayah untuk rajin beribadah dan berakhlak mulia, membahagiakan diri kita, masyarakat kita, bangsa kita, dan umat kita, terutama saudara-saudari kita yang sedang tertindas di Bumi Palestina.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/CintaiDirinyaIkutiSunnahnya

