JUMAT, 24 Muharram 1448 H / 10 Juli 2026 M
Oleh Abdullah Nazhim Hamid, S.T., Lc., M.Ag.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Hari ini kita hidup di zaman yang unik. Bukan lagi zaman ketika orang malu bermaksiat. Tetapi zaman ketika sebagian orang justru malu terlihat taat. Anak muda yang menjaga pandangan disebut kolot. Yang tidak mau pacaran dianggap tidak normal. Yang memelihara jenggot dianggap radikal. Yang memakai jilbab syar'i dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman. Yang menjaga adab makan, adab berpakaian, adab berbicara, bahkan adab masuk kamar mandi sesuai sunnah, dianggap terlalu berlebihan.
Bahkan lebih parah lagi...
Sebagian orang mengatakan,
“Jangan terlalu agamis.”
“Jangan mabuk agama.”
“Gunakan logika.”
Seolah-olah semakin taat kepada agama berarti semakin sedikit menggunakan akal. Padahal... Kalimat seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Inilah tuduhan yang sudah diucapkan ribuan tahun yang lalu kepada para nabi. Allah mengabadikan cara berpikir kaum penentang nabi, Allah berfirman,
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
Terjemahnya: Para pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Kami tidak melihat engkau melainkan hanya seorang manusia seperti kami. Kami juga tidak melihat orang yang mengikutimu kecuali orang-orang yang hina di antara kami yang mengikuti begitu saja tanpa berpikir. Kami tidak melihat kalian memiliki kelebihan atas kami. Bahkan kami menganggap kalian adalah para pendusta. (QS. Hud: 27).
Perhatikan tuduhan mereka. Mereka tidak mengatakan Nabi Nuh alaihissalam tidak memiliki hujjah. Mereka tidak mampu membantah dakwah beliau. Yang mereka lakukan justru menyerang para pengikutnya. “Kenapa yang ikut cuma orang-orang bodoh?”, “Orang miskin.” “Orang rendahan.” “Orang yang tidak berpikir.”
Bukankah ini persis seperti yang sering kita dengar hari ini? Orang yang dianggap rendah justru adalah orang-orang terbaik. Imam As-Sa'di menjelaskan kalimat ini dengan sangat indah. Beliau mengatakan,
وَهُمْ فِي الْحَقِيقَةِ الْأَشْرَافُ، وَأَهْلُ الْعُقُولِ.
Artinya: Mereka yang dituduh sebagai orang-orang rendahan itu, pada hakikatnya justru orang-orang mulia dan orang-orang yang memiliki akal.
Mengapa? Karena mereka tunduk kepada kebenaran. Sedangkan para pembesar justru tunduk kepada hawa nafsu. Mereka menyembah batu. Menyembah pohon. Mengikuti setan. Lalu As-Sa'di berkata,
فَهَلْ تَرَى أَرْذَلَ مِنْ هَؤُلَاءِ وَأَخَسَّ؟
Artinya: Apakah ada orang yang lebih rendah daripada mereka (orang musyrik)?
Subhanallah...
Standar kemuliaan manusia memang berbeda. Di mata manusia pada umumnya, yang hebat adalah yang kaya, yang terkenal, yang viral, yang bebas melakukan apa saja. Tetapi di sisi Allah...yang mulia adalah yang paling tunduk kepada kebenaran.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Benarkah orang beragama tidak berpikir? Inilah syubhat yang sangat populer hari ini. Banyak tokoh liberal berkata, “Agama membuat orang berhenti berpikir.” Padahal Al-Qur'an justru penuh dengan perintah berpikir.
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ
لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Lebih dari lima puluh kali Allah mengajak manusia menggunakan akalnya. Masalahnya bukan pada akal. Tetapi apakah akal itu dipimpin oleh wahyu atau dipimpin oleh hawa nafsu. Allah berfirman,
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
Terjemahnya: Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?" (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Sering kali seseorang mengaku objektif. Padahal yang ia pertahankan hanyalah gaya hidupnya. Ia ingin bebas berzina. Bebas membuka aurat. Bebas minum khamar. Bebas meninggalkan shalat. Karena agama menghalangi semua itu, akhirnya agama dianggap musuh kebebasan. Bukan karena Islam tidak rasional. Tetapi karena Islam menghalangi hawa nafsunya.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
“Mengikuti tanpa berpikir” adalah tuduhan yang keliru. Allah mengabadikan ucapan mereka,
بَادِيَ الرَّأْيِ
Mereka mengikutimu begitu saja.
Maksud orang-orang musyrik, “Mereka tidak berpikir.” Padahal justru sebaliknya. Imam As-Sa'di menjelaskan,
الْحَقُّ الْمُبِينُ تَدْعُو إِلَيْهِ بَدَاهَةُ الْعُقُولِ، وَبِمُجَرَّدِ مَا يَصِلُ إِلَى أُولِي الْأَلْبَابِ يَعْرِفُونَهُ وَيَتَحَقَّقُونَهُ.
Artinya: "Kebenaran yang nyata memang sesuai dengan akal yang lurus. Begitu sampai kepada orang-orang yang berakal sehat, mereka langsung mengenalinya. Ia bukan perkara yang rumit sehingga harus dipikirkan sangat lama.
Inilah hakikat Islam. Islam bukan teka-teki. Islam justru sesuai dengan fitrah. Ketika seseorang yang jujur melihat tauhid, ia langsung tahu bahwa menyembah satu Tuhan jauh lebih masuk akal daripada menyembah banyak sesembahan. Ketika melihat syariat menjaga kehormatan, ia tahu bahwa keluarga akan kokoh. Ketika melihat larangan zina, ia tahu masyarakat menjadi bersih. Ketika melihat larangan khamar, ia tahu akal manusia dijaga. Semuanya sesuai fitrah.
Ibnu Katsir memberikan komentar yang sangat tajam. Beliau berkata:
وَقَوْلُهُمْ: بَادِيَ الرَّأْيِ، لَيْسَ بِمَذَمَّةٍ وَلَا عَيْبٍ؛ لِأَنَّ الْحَقَّ إِذَا وَضَحَ لَا يَبْقَى لِلتَّرَوِّي وَلَا لِلْفِكْرِ مَجَالٌ، بَلْ لَا بُدَّ مِنِ اتِّبَاعِ الْحَقِّ.
Artinya: Ucapan Muyrikin baadiya al-ra’yi (mengikuti tanpa berpikir) bukanlah celaan terhadap orang-orang beriman. Karena apabila kebenaran telah jelas, maka tidak ada lagi tempat untuk menunda atau berpikir berlama-lama. Yang wajib adalah segera mengikutinya.
Perhatikan kalimat beliau setelahnya.
Beliau mengatakan:
وَلَا يُفَكِّرُ وَيَنْزَوِي هَاهُنَا إِلَّا عَيِيٌّ أَوْ غَبِيٌّ.
Artinya: Dalam kondisi seperti itu, yang terus menunda-nunda hanyalah orang yang lemah pemahamannya atau orang yang bodoh.
Kalimat ini sangat dalam. Kadang kita mengira semakin lama seseorang ragu berarti semakin ilmiah. Padahal jika bukti sudah jelas, menunda menerima kebenaran bukanlah tanda kecerdasan. Tetapi tanda kesombongan. Abu Bakar adalah contoh orang yang paling cerdas. Ibnu Katsir kemudian mengutip hadits Rasulullah ﷺ:
مَا دَعَوْتُ أَحَدًا إِلَى الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ كَبْوَةٌ، غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ، فَإِنَّهُ لَمْ يَتَلَعْثَمْ
Artinya: Aku tidak pernah mengajak seseorang kepada Islam kecuali ia sempat mengalami keraguan sesaat, kecuali Abu Bakar. Ia tidak pernah ragu sedikit pun.
Mengapa? Karena beliau melihat bukti yang sangat jelas. Orang yang paling cerdas justru orang yang paling cepat menerima kebenaran ketika dalil telah nyata.
Ibnu Asyur menjelaskan bahwa kaum Nabi Nuh ingin membangun opini publik. Seakan-akan kaum Nabi Nuh berkata:
لَوْ أَعَادُوا النَّظَرَ وَالتَّأَمُّلَ لَعَلِمُوا أَنَّكَ لَا تَسْتَحِقُّ أَنْ تُتَّبَعَ.
Seandainya para pengikutmu (wahai Nuh) berpikir ulang, tentu mereka akan meninggalkanmu.
Bukankah inilah yang sering kita dengar?
“Kalau kamu banyak membaca...”
“Kalau kamu berpikir kritis...”
“Kalau kamu modern...”
“Nanti juga tidak terlalu fanatik agama.”
Padahal fakta sejarah justru sebaliknya. Semakin banyak orang yang meneliti Islam dengan hati yang jujur, semakin mereka mengakui keagungannya. Banyak ilmuwan, akademisi, dokter, profesor, dan intelektual dari berbagai negeri memeluk Islam bukan karena tekanan, tetapi setelah penelitian yang panjang dan objektif. Mereka menemukan bahwa ajaran Islam selaras dengan akal yang sehat, fitrah manusia, dan kebutuhan hidup. Sebaliknya, banyak orang yang menolak Islam bukan karena lemahnya dalil, melainkan karena tidak siap meninggalkan gaya hidup yang bertentangan dengan syariat.
Islam sesuai dengan fitrah. Islam tidak bertentangan dengan fitrah. Yang bertentangan dengan fitrah adalah syahwat yang tidak terkendali. Karena itu, siapa yang membersihkan hatinya dari hawa nafsu, akan lebih mudah menerima kebenaran.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Jangan pernah minder menjadi muslim yang taat. Jangan malu menjalankan sunnah. Jangan malu menjaga adab. Jangan malu dikenal sebagai orang yang menjaga agamanya. Karena tuduhan bahwa orang beragama adalah orang yang tidak berpikir...Sudah diucapkan kepada Nabi Nuh alaihissalam ribuan tahun yang lalu. Tetapi Allah justru membela orang-orang yang mengikuti kebenaran. Mereka bukan orang bodoh. Mereka adalah orang-orang yang paling jernih akalnya. Maka marilah kita memohon kepada Allah agar diberikan hati yang bersih, akal yang lurus, dan keberanian untuk menerima kebenaran kapan pun ia datang.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Di tengah perhelatan Piala Dunia, ada beberapa nasihat singkat yang perlu kita renungkan sebagai seorang muslim.
Pertama, jangan sampai hati kita terlalu larut dalam euforia maupun kesedihan karena hasil pertandingan. Menang atau kalahnya suatu tim bukanlah sesuatu yang menentukan kebahagiaan seorang mukmin. Kebahagiaan kita yang sejati adalah ketika Allah memberikan hidayah, taufik, dan kemudahan untuk beramal saleh.
Kedua, jauhilah segala bentuk perjudian. Perlu diketahui bahwa industri taruhan olahraga menjadi salah satu sumber keuntungan terbesar yang mengiringi kompetisi sepak bola dunia. Seorang muslim tidak boleh menjadi bagian dari praktik yang telah Allah haramkan.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kalian beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90).
Ketiga, jangan sampai pertandingan sepak bola membuat kita melalaikan kewajiban dan amal saleh. Jangan sampai salat berjamaah ditinggalkan, tilawah Al-Qur'an berkurang, dzikir dilupakan, atau bahkan begadang tanpa manfaat sehingga lalai dari shalat Subuh.
Keempat, tetaplah menjaga jati diri sebagai seorang muslim. Jangan menjadikan para pemain bola sebagai teladan dalam segala hal. Bila ada di antara mereka yang bertato, berpenampilan yang menyelisihi syariat, atau bergaya hidup yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka janganlah kita menirunya.
Kelima, jagalah pandangan kita. Dalam pertandingan sepak bola sering kali tampak aurat yang tidak boleh dipandang, khususnya paha para pemain, karena itu, hendaknya seorang muslim senantiasa menjaga pandangannya dan tidak membiarkan hiburan menyeretnya kepada perkara yang diharamkan.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Islam bukanlah agama yang melarang hiburan yang mubah. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar setiap hiburan berada di bawah kendali iman, bukan sebaliknya. Seorang mukmin menikmati sesuatu yang halal secukupnya, namun tidak sampai melalaikan tujuan hidupnya, yaitu beribadah kepada Allah dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/HarmoniImanDanKetajamanNalar

