JUMAT, 6 Rabiulakhir 1448 H / 18 September 2026 M
Oleh Alif Jumai Rajab, Lc., M.Ag.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Semoga shalawat tercurah pada Nabi kita Muhammad ﷺ keluarga dan sahabat-Nya serta yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah perkara yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu:
“Menghormati Guru dan Ulama sebagai Pewaris Nabi.”
Kita hidup di zaman ketika ilmu begitu mudah ditemukan. Dengan sebuah telepon genggam, seseorang dapat membuka ribuan buku, mendengar ceramah para ustaz, membaca ayat dan hadis, bahkan mendapatkan jawaban dari berbagai persoalan agama hanya dalam hitungan detik.
Namun ada satu perkara yang tidak boleh hilang bersamaan dengan mudahnya mendapatkan informasi tersebut;
“Adab kepada orang yang membawa ilmu”
Sebab dalam Islam, ilmu bukan hanya persoalan mengetahui. Ilmu adalah amanah yang harus melahirkan ketundukan kepada Allah dan akhlak yang baik.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Kedudukan mulia tersebut bukanlah tanpa alasan, sebab al-Qur'an dan keteladanan para ulama salaf telah menegaskan bagaimana seharusnya ilmu dan pembawanya diperlakukan:
1. Allah memuliakan orang yang beriman dan berilmu
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Terjemahnya: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujādilah: 11).
Perhatikan jamaah sekalian...
Allah tidak menyebut ilmu sebagai sesuatu yang rendah. Allah justru menjadikan ilmu sebagai sebab seseorang mendapatkan kedudukan yang tinggi. Karena itu, orang yang mengajarkan al-Qur'an, hadis, fikih, akidah, akhlak dan berbagai ilmu yang bermanfaat memiliki kedudukan yang harus kita hormati.
Bukan karena gurunya harus selalu benar. Bukan pula karena ulama adalah manusia yang tidak mungkin salah. Tetapi karena ilmu yang mereka ajarkan memiliki kedudukan yang mulia.
2. Ulama Adalah Pewaris Nabi
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ
Artinya: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu.” (HR. Abu Dawud, no. 3641).
Hadis ini dikenal sebagai hadis tentang kedudukan ulama sebagai pewaris ilmu kenabian. Maknanya bukan bahwa ulama memiliki kedudukan kenabian. Tidak!
Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi. Tetapi yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu dan dakwah kepada Allah. Maka seorang guru al-Qur'an yang mengajarkan anak membaca al-Qur'an, seorang ustaz yang mengajarkan hadis, seorang kiai yang membimbing masyarakat kepada ketaatan, mereka mengambil bagian dari tugas mulia yang dahulu dilakukan oleh para nabi: mengajarkan manusia kepada jalan Allah.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
3. Menghormati Ulama Bukan Berarti Menganggap Mereka Maksum
Ini penting untuk dipahami. Menghormati guru dan ulama bukan berarti menganggap mereka tidak pernah salah. Para ulama bukan nabi. Mereka bisa salah dalam memahami suatu persoalan. Mereka bisa keliru dalam berijtihad. Mereka bisa berbeda pendapat dalam masalah yang memang diperselisihkan.
Namun ketika kita menemukan kekeliruan seorang guru, apakah cara kita memperbaikinya dengan mencela?
Apakah dengan mempermalukannya di depan orang banyak?
Apakah dengan membuat potongan video kemudian menyebarkannya?
Tentu tidak.
Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Terjemahnya: “Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (QS. al-Baqarah: 83).
Maka mengoreksi kesalahan tidak boleh menghilangkan adab. Kita bisa berbeda pendapat tanpa mencaci. Kita bisa mengkritik tanpa merendahkan. Kita bisa menjelaskan kesalahan tanpa menghancurkan kehormatan seseorang.
4. Di Antara Tanda Hilangnya Adab: Mudah Meremehkan Guru dan Ulama
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Salah satu persoalan yang kita hadapi hari ini adalah mudahnya seseorang meremehkan orang yang berilmu. Kadang hanya karena melihat satu potongan video berdurasi satu menit, seseorang langsung merasa lebih mengetahui daripada seorang guru yang belajar puluhan tahun. Kadang seseorang membaca satu artikel di internet, kemudian merasa tidak membutuhkan ustaz.
Bahkan yang lebih menyedihkan, ada anak yang berani membentak gurunya, mengejek gurunya, atau mempermalukan gurunya di hadapan teman-temannya. Padahal Rasulullah ﷺ memberikan perhatian besar terhadap adab kepada orang yang lebih tua dan orang yang berilmu.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا
Artinya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengetahui hak orang yang lebih tua.” (HR. Abu Dawud: No. 4943).
Dalam riwayat lain disebutkan lafaz:
وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
Artinya: “Dan mengetahui hak orang yang berilmu di antara kami.” (HR. Ahmad: No. 22845).
Artinya, Islam mengajarkan kita untuk mengetahui hak seorang alim.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
5. Adab Kepada Guru Adalah Bagian Dari Perjalanan Mencari Ilmu
Para ulama terdahulu sangat memperhatikan masalah adab. Diriwayatkan dari Abdullah ibn Mubarak rahimahullah bahwa beliau sangat memperhatikan adab dalam majelis ilmu. Bahkan ada ungkapan yang masyhur dari beliau:
تَعَلَّمْتُ الْأَدَبَ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَتَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً
Artinya: “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.” (Syi’ar a’lam al-Nubala /8; h. 403).
Ungkapan ini banyak dinukil dalam pembahasan adab menuntut ilmu, meskipun riwayat dan redaksi lengkapnya perlu diperlakukan sebagai atsar yang dinukil, bukan hadis Nabi. Ini menunjukkan betapa seriusnya para ulama dalam masalah adab.
Karena ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan. Ilmu tanpa ketundukan dapat menjadi alat untuk berdebat. Ilmu tanpa akhlak bahkan dapat membuat seseorang semakin jauh dari kebenaran.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Menghormati guru dan ulama bukan hanya soal sopan santun, tetapi bagian dari adab kita terhadap ilmu. Karena itu, jangan sampai perbedaan pendapat atau kesalahan seseorang membuat kita melupakan kebaikan dan ilmu yang telah mereka ajarkan. Kita boleh berbeda, tetapi jangan sampai kehilangan adab.
Mari kita hidupkan kembali adab kepada ilmu, guru, dan ulama. Ajarkan kepada anak-anak kita untuk menghormati orang yang mengajarkan Al-Qur’an dan kebaikan, serta biasakan menyelesaikan perbedaan dengan ilmu dan akhlak. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, memperbaiki akhlak kita, serta memberkahi para guru dan ulama yang telah membimbing kita.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Untuk memperbaiki keadaan ini, marilah kita mulai dari diri dan keluarga kita.
Pertama, mari kita kembali belajar agama kepada guru dan ulama yang terpercaya, bukan hanya mengambil ilmu dari potongan-potongan media sosial.
Kedua, ajarkan anak-anak kita untuk menghormati gurunya. Jika ada masalah, jangan langsung menyalahkan guru, tetapi selesaikan dengan komunikasi dan adab.
Ketiga, ketika berbeda pendapat dengan ulama, tetaplah menjaga lisan. Kita boleh berbeda, tetapi tidak boleh merendahkan.
Dan keempat, para guru hendaknya terus menjadi teladan dalam ilmu, akhlak, kesabaran, dan kasih sayang kepada murid.
Jamaah Jumat rahimakumullah...
Mari kita hidupkan kembali adab kepada ilmu, adab kepada guru, dan adab kepada ulama. Semoga dengan itu Allah memberikan keberkahan kepada ilmu yang kita pelajari dan kepada generasi yang kita didik..
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/HormatiUlamaSebagaiPewarisNabi

