JUMAT, 29 Rabiulawal 1448 H / 11 September 2026 M
Oleh Muhammad Ode Wahyu, S.Pd.I., S.H.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Di dalam Al-Qur'an Allah -Azza wajalla- berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Terjemahannya: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82).

Pada ayat ini, Allah -Ta'ala- mengabarkan bahwa ternyata orang-orang yang mendapatkan keamanan pada hari kiamat hanyalah orang-orang yang beriman, yang tidak mencampuradukkan keimanannya itu dengan kesyirikan.

Ayat ini, juga menyiratkan bahwa ada orang-orang yang beriman kepada Allah -Azza wajalla-, tapi dengan keimanannya itu ia tidak selamat pada hari kiamat, karena keimanannya masih tercampur dengan amalan-amalan syirik atau keyakinan-keyakinan syirik.

Sebagaimana yang Allah -Ta'ala- informasikan pada ayat lain:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

Terjemahannya: "Dan, tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah melainkan mereka adalah orang-orang musyrik." (QS. Yusuf: 106).

Sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Abbas -radhiyallahu anhuma- menjelaskan iman mereka yang bercampur kesyirikan itu berkata:

مِنْ إِيمَانِهِمْ، إِذَا قِيلَ لَهُمْ: مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ وَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ وَمَنْ خَلَقَ الْجِبَالَ؟ قَالُوا: اللَّهُ، وَهُمْ مُشْرِكُونَ.

"Keimanan mereka yaitu, jika dikatakan pada mereka, siapakah yang telah menciptakan langit, siapakah yang menciptakan bumi, siapakah yang menciptakan gunung, maka mereka mengatakan, Allah-lah penciptanya. Tapi mereka menyekutukan-Nya." (Tafsir Ath-Thobari: 6/722).

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas -radhiyallahu anhuma- ini, sesuai yang termaktub dalam al-Quran. Allah -Ta'ala- berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Terjemahannya: "Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, "Allah.” Maka katakanlah, "Maka apakah kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?”  (QS. Yunus: 31).

Oleh karena itu, setiap kita hendaklah menjaga diri dari amalan-amalan atau keyakinan yang berbau syirik. Sebab, iman yang tercampur dengan noda syirik tidak diterima oleh Allah -Ta'ala-, bahkan Allah mengancam pelakunya dengan haramnya surga untuk dirinya.

Allah -Ta'ala- berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Terjemahannya: "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." (QS. Al-Maidah: 72).

Tidak hanya itu, orang yang melakukan kesyirikan, maka terhapuslah amalan-amalan kebajikan yang pernah ia lakukan. Semua kebajikan itu menjadi tidak bermanfaat dan tidak bernilai sedikitpun. Allah -Ta'ala- berfirman:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Terjemahannya: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Az-Zumar: 65).

Karena itulah, larangan kesyirikan ditujukan kepada orang-orang yang beriman, yang mengharapkan pertemuan dengan Allah. Jangan sampai, kesyirikan menghapuskan pahala amalannya, baik itu pahala sholat, puasa, haji, sedekah dan lainnya. Allah -Ta'ala- berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Terjemahannya: "Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

Yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, dengan amalan-amalannya, dengan sholatnya, dengan hajinya, dengan sedekahnya, dengan puasa dan zakatnya, dan amalan-amalan saleh lainnya, jangan mempersekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya dengan sesuatu apapun.

Allah tidak perintahkan berbuat amal saleh saja untuk bisa bertemu dengan-Nya, tapi juga dengan meninggalkan perbuatan syirik.

Karena itu, jauhilah segala bentuk kesyirikan, baik itu dalam doa, dalam hukum, dan keyakinan lainnya.

Jika kita berdoa, berdoalah kepada Allah. Jangan berdoa kepada batu, gunung, pohon keramat, kubur yang dikeramatkan, jangan pula berdoa kepada malaikat dan jangan berdoa kepada orang-orang saleh yang telah meninggal dunia. Semua itu adalah kesyirikan.

Allah -Ta'ala- berfirman:

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

Terjemahannya:  "Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-Nya." (QS. An-Najm: 26).

Ayat ini, didahului dengan informasi terkait al-Lata, al-Uzza dan al-Manath yang merupakan tuhan orang-orang Arab zaman dahulu. Sebagaimana dalam sahih Bukhari, al-Laata adalah seorang yang saleh pada zaman dahulu yang selalu membuat roti untuk disedekahkan pada jama'ah haji. Ketika ia meninggal dunia, orang-orang mendatangi kuburannya, beri'tikaf dikuburannya hingga menjadikannya sebagai Tuhan.

Al-Uzza, sebagaimana penuturan imam ath-Thobari dalam tafsirnya, yaitu satu pohon yang diagungkan, dibuatkan bangunan disekelilingnya dan diberikan kelambu, ia memiliki juru kunci dan orang-orang datang berdoa dan beribadah padanya.

Demikian al-Manath, ia adalah batu yang disucikan oleh orang-orang Arab zaman dahulu, diagungkan dan disembah, orang-orang datang kepadanya untuk berdoa.

Lalu, Allah -Ta'ala- sebutkan kemuliaan Malaikat yang memiliki syafaat. Tapi syafa'at itu tidak bisa berguna kecuali telah mendapat izin dari Allah sehingga tidak boleh berdoa kepada Malaikat. Padahal, dahulu orang-orang Arab berdoa kepada para Malaikat dengan maksud agar para Malaikat itu dapat mendekatkan diri mereka pada Allah dengan sedekat-dekatnya.

Karena itu, setelah menyebutkan firman Allah -Ta'ala- :

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

Terjemahannya:  "Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-Nya." (QS. An-Najm: 26).

Imam Ibnu Jarir ath-Thobari -rahimahullah- berkata:

وَإِنَّمَا هٰذَا تَوْبِيْخٌ مِنَ الله - تَعَالَى ذِكْرُهُ - لِعَبَدَةِ الْأَوْثَانِ وَالْمَلَإِ مِنْ قُرَيْشٍ وَغَيْرِهِمُ الَّذِيْنَ كَانُوْا يَقُوْلُوْنَ ﴿ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللّٰهِ زُلْفَى ﴾ فَقَالَ اللّٰهُ جَلَّ ذِكْرُهُ لَهُمْ : مَا تَنْفَعُ شَفَاعَةُ مَلَائِكَتِي الَّذِيْنَ هُمْ عِنْدِيْ لِمَنْ شَفَعُوْا لَهُ ، إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِيْ لَهُمْ بِالشَّفَاعَةِ لَهُ وَرِضَايَ ، فَكَيْفَ بِشَفَاعَةِ مَنْ دُوْنِهِمْ ، فَأَعْلَمَهُمْ أَنَّ شَفَاعَةَ مَا يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ غَيْرُ نَافِعَتِهِمْ.

Artinya: "Dan sungguh ini hanyalah teguran keras dari Allah — Maha Tinggi sebutan-Nya — kepada para penyembah berhala dan para pembesar Quraisy serta selain mereka, yaitu orang-orang yang dahulu berkata: (Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya). Maka Allah — Maha Agung sebutanNya — berfirman kepada mereka: Syafaat para malaikatKu yang berada di sisi-Ku tidaklah bermanfaat bagi orang yang mereka beri syafaat, kecuali setelah adanya izinKu bagi mereka untuk memberikan syafaat kepadanya serta adanya keridaan-Ku. Maka bagaimana mungkin dengan syafaat selain dari mereka? Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa syafaat dari apa yang mereka sembah selain-Nya sama sekali tidak akan memberi manfaat bagi mereka." (Tafsir ath-Thobari: 10/467)

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Menyekutukan Allah adalah dosa yang paling besar. Ia tidak hanya dalam bentuk berdoa dan menyembah pada selain-Nya, tapi juga dalam bentuk yang lain. Misalnya, ketika seseorang menjadikan tandingan sifat bagi Allah, dimana sifat itu seharusnya hanya pada Allah -Ta'ala-.

Makanya, tidak boleh berdoa pada selain Allah, baik itu pada malaikat, orang saleh, para Nabi atau selain mereka. Allah hanya ridho jika kita berdoa padanya dan tidak pada selainNya.

Sungguh perkara syirik ini sangatlah berbahaya. Rasullullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- bahkan mengajarkan kita doa agar tidak terjatuh padanya. Rasullullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

لَلشِّرْكُ فِيْكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ، وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيْلُهُ وَكَثِيْرُهُ؟ قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.

"Sungguh, kesyirikan di antara kalian itu lebih tersembunyi daripada merayapnya semut. Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kesyirikan itu lebih samar daripada merayapnya semut. Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu hal yang jika engkau mengamalkannya, maka kesyirikan itu akan hilang darimu—baik yang sedikit (kecil) maupun yang banyak (besar)? Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu padahal aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui). " (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).

Semoga Allah jauhkan kita semua dari segala bentuk kesyirikan. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Selawat kepada Nabi adalah doa sekaligus senjata ampuh bagi setiap mukim, yang sangat dianjurkan pada hari Jumat. Maka marilah kita memperbanyaknya di hari Jumat ini, juga di hari-hari lainnya.

Tak ada mukmin yang merugi karena banyak berselawat, bahkan sebaliknya, orang yang merugi adalah yang malas-malasan mengirimkan selawat kepada baginda Nabi kita, karena setiap selawat adalah keuntungan dan faktor keselamatan, karena selawat adalah zikir pemberi kebahagiaan, pemberi solusi dari kesulitan, penghapus dosa, pencetus rahmat, dan peninggi derajat hamba. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu yang berencana memperbanyak shalawat:

إِذَنْ تُكْفَى هَمُّكَ وَيُكْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Artinya: “Kalau demikian, maka kesusahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni.” (HR Tirmizi: 2457 dengan sanad hasan).

Marilah kita pada khutbah kedua ini, bershalawat dan memohon kepada Allah agar Dia memberikan keberkahan kepada Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, meneguhkan iman di dada kita, memudahkan segala urusan, serta memberikan keselamatan dan kebahagiaan bagi keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di seluruh penjuru dunia, terutama saudara-saudari kita yang sedang tertindas di Bumi Palestina.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Download PDFnya di https://bit.ly/ImanSajaTakCukup