JUMAT, 26 Zulhijah 1447 H / 12 Juni 2026 M
Oleh Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala yang masih saja memberikan kesempatan demi kesempatan kepada kita untuk datang bersujud kepadaNya, datang bertaubat kepadaNya, dengan membawa semua beban dosa dan maksiat yang telah sekian lama kita tumpuk. Semoga kita selalu diberikan hidayahNya untuk bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan itu dengan sungguh-sungguh bertaubat dan memperbaiki diri.
Kami ingatkan kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa adalah bekal terbaik dalam kehidupan ini, dan wasiat teragung Allah untuk seluruh manusia dari zaman ke zaman.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا
Artinya: “Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian: bertakwalah kepada Allah. Jika kalian kufur, maka sesungguhnya milik Allah apa yang di langit dan di bumi, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. An-Nisa: 131).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Waktu kita terus berjalan. Malam berganti pagi, musim berganti musim. Ramadhan datang lalu pergi. Dzulhijjah hadir dengan segala keistimewaannya — haji, kurban, takbir, sedekah — lalu ia pun berlalu. Masjid yang tadinya penuh perlahan kembali sepi. Mushaf yang sempat rutin dibuka perlahan tertutup lagi. Air mata yang sempat menetes di sepertiga malam perlahan mengering.
Dan kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita memang hanya semangat beramal shalih dan melakukan kebaikan di musim-musim tertentu saja?
Seorang mukmin sejati tidak mengenal kata berhenti dalam ketaatan, selama ruh masih menetap di dalam jasadnya. Amal shalih bukan baju lebaran yang dipakai setahun sekali lalu disimpan kembali. Ketaatan bukan sekadar suasana. Islam adalah cara hidup — cara kita bernafas, cara kita berbicara, cara kita bekerja, cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita. Dan Allah disembah bukan hanya di bulan tertentu atau pada tanggal-tanggal istimewa, melainkan sepanjang usia, sampai kematian datang menjemput.
Allah Ta'ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin." (QS. Al-Hijr: 99).
Para ulama menjelaskan bahwa al-yaqin di sini adalah kematian.
Maka batas ibadah seorang hamba bukan selesainya Ramadhan, bukan usainya ibadah haji, bukan pula datangnya usia tua. Batas ibadah adalah kematian itu sendiri.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Satu nikmat yang sering kita lupa syukuri adalah nikmat kesempatan bernafas dan masih diberikan kesempatan hidup.
Selama Allah masih memberi kita nafas, berarti pintu amal belum tertutup.
Selama jantung masih berdetak, berarti taubat masih diterima.
Selama lisan masih bisa bergerak, berarti dzikir masih bisa terucap.
Selama kaki masih bisa melangkah, berarti masjid masih bisa dijangkau.
Selama tangan masih bisa memberi, berarti sedekah masih bisa mengalir.
Jangan remehkan sisa umur yang ada. Sebab umur bukan sekadar angka yang bertambah; ia adalah kesempatan beramal dan bertaubat yang sedang dan terus berkurang. Setiap hari yang berlalu tidak akan kembali.
Dan setiap Jumat yang kita hadiri mendekatkan kita, satu langkah lebih dekat, kepada Jumat terakhir dalam hidup kita; yang tidak satu pun dari kita tahu kapan datangnya.
Maka, jangan pernah berhenti jadi shalih, jamaah sekalian…
Jangan berhenti shalat tepat waktu hanya karena Ramadhan telah berlalu. Jangan berhenti membaca Al-Qur'an hanya karena target khatam sudah terpenuhi. Jangan berhenti bersedekah hanya karena tidak ada kotak amal yang lewat di depan kita.
Jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban terasa belum juga datang. Jangan berhenti menjaga lisan hanya karena obrolan terasa santai dan tidak resmi. Dan jangan berhenti takut kepada Allah hanya karena pintu kamar sedang tertutup dan layar ponsel ada di tangan.
Renungkanlah, jamaah sekalian…
Betapa banyak orang yang masih terlihat sehat, lalu tiba-tiba dipanggil Allah. Betapa banyak yang kemarin masih bercerita, hari ini tinggal nama yang disebut dalam doa. Betapa banyak pesan yang terkirim dari seseorang ternyata menjadi pesan terakhirnya di dunia ini.
Maka orang yang benar-benar cerdas bukanlah yang paling banyak mengumpulkan harta dunia, melainkan yang paling sadar bahwa dunia ini suatu hari akan ia tinggalkan.
Rasulullah ﷺ pernah memegang tangan Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, lalu berkata:
يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إِنِّي لأُحِبُّكَ، وَاللهِ إِنِّي لأُحِبُّكَ
"Yaa Mu'adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu."
Kemudian beliau berwasiat:
أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لا تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكرِكَ، وَشُكرِكَ، وَحُسنِ عِبَادَتِكَ
"Aku wasiatkan padamu, wahai Muadz, Jangan engkau tinggalkan di penghujung setiap shalat untuk mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكرِكَ، وَشُكرِكَ، وَحُسنِ عِبَادَتِكَ
Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu." (HR. Abu Dawud dan an-Nasa'i, dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani).
Perhatikanlah, melalui hadits ini, Nabi ﷺ tidak mengajarkan kita untuk mengandalkan kekuatan diri sendiri. Bahkan untuk sekadar berdzikir dan bersyukur, kita diperintahkan meminta tolong kepada Allah. Sebab bila seorang hamba dibiarkan bersandar kepada dirinya sendiri, ia akan lemah. Semangat bisa surut. Hati bisa berbalik. Niat bisa rusak oleh hal-hal kecil yang tidak disangka.
Karena itulah kita diajarkan untuk selalu memohon:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu."
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah...
Salah satu pintu terbesar agar seorang hamba tetap bisa menjaga keshalihan adalah menjaga shalatnya. Shalat adalah tiang agama ini. Shalat adalah pembeda antara hati yang hidup dan hati yang lalai. Shalat adalah sungai pembersih yang Allah sediakan setiap hari, lima kali sehari, tanpa henti.
Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:
أَرَأَيتُم لَو أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُم يَغتَسِلُ مِنهُ كُلَّ يَومٍ خَمسَ مَرَّاتٍ، مَا تَقُولُونَ هَل يَبقَى مِن دَرَنِهِ شَيءٌ؟
"Bagaimana pendapat kalian, seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu ia mandi darinya lima kali sehari: apakah masih tersisa kotoran pada dirinya?"
Para sahabat menjawab:
لا يَبقَى مِن دَرَنِهِ شَيءٌ
"Tidak akan tersisa sedikit pun."
Maka beliau bersabda:
فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمسِ، يَمحُو اللهُ بِهَا الخَطَايَا
"Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Allah menghapus dosa-dosa dengannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, jamaah sekalian…
Jangan jadikan shalat sebagai sisa waktu. Jangan tunda shalat sampai hati menjadi keras dan malas. Jangan menunggu usia tua untuk mulai menjaga shalat berjamaah. Jangan menunggu musibah dulu baru kembali bersujud kepada Allah. Karena hamba yang ingin terus menjadi shalih harus punya ikatan yang kuat dengan shalatnya.
Terkhusus bagi kaum laki-laki, shalat berjamaah di masjid adalah pintu kebaikan yang sangat besar. Dalam setiap langkah menuju masjid ada derajat yang diangkat dan dosa yang dihapus. Dalam duduk menunggu iqamah ada pahala yang terus mengalir. Dan dalam sujud ada kedekatan yang tidak bisa diganti oleh apa pun.
Rasulullah ﷺ bersabda dan mengingatkan:
صَلاةُ الرَّجُلِ في الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاتِهِ في بَيتِهِ وَفي سُوقِهِ خَمسًا وَعِشرِينَ ضِعفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلى المَسجِدِ، لا يُخرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاةُ، لم يَخطُ خُطوَةً، إِلاَّ رُفِعَت لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى لم تَزَلِ المَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيهِ، مَا دَامَ في مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيهِ، اللَّهُمَّ ارحَمْهُ
"Shalat seseorang secara berjamaah dilipatgandakan pahalanya dibandingkan shalatnya di rumah dan di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat.
Hal itu karena ketika ia berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian keluar menuju masjid, dan tidak ada yang membuatnya keluar selain untuk shalat, maka tidaklah ia melangkahkan satu langkah pun kecuali dengan langkah itu Allah mengangkat satu derajat baginya dan menghapus satu kesalahan darinya.
Apabila ia telah melaksanakan shalat, para malaikat terus mendoakannya selama ia masih berada di tempat shalatnya. Mereka berdoa: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepadanya. Ya Allah, rahmatilah dia.” (HR. al-Bukhari)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Jadilah shalih di mana pun kita berada…
Jadilah suami yang lembut dan bertanggung jawab. Jadilah istri yang amanah dan menjaga kehormatan rumah tangga.
Jadilah ayah yang membimbing dengan kasih, ibu yang mendidik dengan sabar.
Jadilah anak yang berbakti, tetangga yang tidak menyusahkan, pedagang yang jujur timbangan dan ucapannya, pekerja yang amanah waktu dan tenaganya, dan pengguna media sosial yang selalu ingat bahwa Allah melihat apa yang kita browsing dan setiap kata yang kita ketik.
Dan apabila kita pernah jatuh dalam dosa-dan siapa di antara kita yang tidak pernah jatuh dalam dosa?- jangan pula berhenti berharap kepada Allah. Karena di antara karunia-Nya yang paling besar adalah pintu taubat yang tidak pernah Ia tutup selama ruh belum sampai di tenggorokan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبسُطُ يَدَهُ بِاللَّيلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيلِ، حَتَّى تَطلُعَ الشَّمسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di malam hari; hingga matahari terbit dari barat." (HR. Muslim)
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53).
Maka jangan berhenti menuju Allah hanya karena pernah jatuh.
Bangkitlah. Jangan berkata dalam hati, "Aku sudah terlalu jauh, sudah terlalu kotor." Tidak ada yang terlalu jauh bagi rahmat Allah, selama seorang hamba mau kembali dengan tauhid yang lurus, taubat yang sungguh-sungguh, penyesalan yang jujur dan tulus, dan tekad yang nyata untuk memperbaiki diri.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah. Semoga Allah menolong kita menjaga shalat, menghidupkan lisan dengan dzikir, memperindah akhlak, dan memanfaatkan sebaik-baiknya umur yang tersisa sebelum ajal datang tanpa permisi.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Pesan yang ingin kita bawa pulang dari khutbah ini sesungguhnya sederhana: jangan berhenti jadi shalih. Jangan jadikan ketaatan sebagai kenangan manis dari masa lalu. Jangan hanya menjadi baik ketika suasana mendukung dan keadaan terasa nyaman.
Jadilah hamba Allah di setiap waktu, dalam setiap keadaan.
Salah satu amalan yang paling mudah namun sangat besar nilainya adalah dzikir kepada Allah. Dzikir tidak membutuhkan tempat khusus, tidak butuh persiapan panjang. Ia bisa dilakukan sambil berjalan ke warung, sambil menunggu antrian, sambil berkendara, bahkan sambil berbaring sebelum tidur. Lisan yang basah dengan dzikir adalah pertanda hati yang masih hidup dan terjaga.
Seorang sahabat pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ bahwa syariat Islam terasa banyak dan berat baginya. Ia meminta satu pegangan yang bisa ia jaga seumur hidup. Maka Nabi ﷺ menjawab:
لا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكرِ اللهِ
"Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah." (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani).
Dan beliau ﷺ juga bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ في المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلى الرَّحمَنِ: سُبحَانَ اللهِ العَظِيمِ، سُبحَانَ اللهِ وَبِحَمدِهِ
"Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallahil 'azhim, subhanallahi wa bihamdih." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Maka hidupkanlah hari-hari kita dengan dzikir…
Ketika hati gelisah, berdzikirlah. Ketika urusan dunia terasa menekan, berdzikirlah.
Ketika mendapat nikmat, bersyukurlah dengan lisan dan perbuatan.
Ketika tersandung dosa, segeralah beristighfar.
Dan ketika rasa malas mulai menyelimuti, jangan tunggu semangat datang sendiri, tapi mintalah segera pertolongan kepada Allah; agar semangat Akhirat itu datang dan menyala kembali dalam diri kita.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/JanganBerhentiJadiSaleh

