JUMAT, 10 Muharram 1448 H / 26 Juni 2026 M
Oleh Dr. Maulana La Eda, Lc., M.A.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Seorang muslim senantiasa ada dalam balutan takwa dan kebahagiaan ketika ia ikhlas datang ke masjid agar bisa mempersembahkan pada Allah takbir terbaik, rukuk terindah, dan sujud terkhusyuk. Marilah takwa ini kita tunjukkan dalam indahnya ibadah dan akhlak kita, semoga Allah Ta’ala mewafatkan kita di atas keduanya. Amin.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Setiap kita pasti mengangankan terwujudnya rasa bahagia dan nuansa indah dalam bingkai kehidupan rumah tangga. Hanya saja banyak di antara kita yang masih enggan meneladani potret rumah tangga Sang Teladan Muhammad shallallahu'alaihi wasallam. Akhirnya, kadang rumah tangga kita yang kita angankan menjadi tempat ternyaman, malah menjadi rumah yang menyedihkan dan tak mendatangkan kebahagiaan. Bahkan tak jarang, rumah yang seharusnya menjadi surga dan taman-taman syahdu bagi penghuninya, seketika menjelma menjadi neraka dunia yang penuh petaka dan kesengsaraan.
Oleh karena itu, demi mewujudkan keluarga yang mawaddah wa rahmah serta merealisasikan tujuan utama terbangunnya suatu rumah tangga Allah -Ta'ala- telah menegaskan beberapa faktornya dalam Al-Quran, sebagaimana dalam beberapa firman-Nya:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah". (QS Ar-Rum: 21).
Juga firman-Nya:
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
Artinya: "Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 187).
Dua ayat ini mengisyaratkan dua poin penting tentang fondasi terbangunnya rumah tangga yang bahagia yaitu:
1). Saling memberikan sikap kenyamanan (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah)
2). Saling menyempurnakan, yaitu dengan menutupi kekurangan masing-masing dan menunjukkan perhatian yang lebih, seperti halnya fungsi pakaian pada tubuh kita.
Bahkan, Nabi shallallahu'alaihi wasallam seringkali menekankan hal ini lewat sabda dan sikap teladan yang dicontohkannya dalam hidup berrumah tangga. Rumah tangga beliau yang merupakan teladan utama bagi setiap rumah tangga muslim, sangat menggambarkan kondisi mawaddah wa rahmah ini karena didalamnya terdapat banyak faktor yang bisa mewujudkannya, di antara yang terpenting adalah:
Pertama: Ibadah Sebagai Fondasi Utama Rumah Tangga
Banyak orang yang membangun keluarga dan rumah tangga di atas fondasi agama yang rapuh dan mudah roboh, lantaran hanya bermodalkan materi sehingga kebahagiaan yang mereka cari tidak kunjung didapat. Bahkan, materi tersebut kadang hanya menambah kelamnya suasana rumah tangga. Atau bila materi tersebut mendatangkan bahagia dan kenyamanan, maka ia hanya bersifat semu dan tidak permanen, bukan kebahagiaan hakiki yang menghunjam dalam jiwa dan rohani. Sebab bahagia itu tidak bisa diukur dari kemegahan lahir dan berlimpahnya materi, namun diukur oleh ketenangan jiwa dan kepuasan rohani walaupun ada kekurangan dari segi materi.
Demi mewujudkan rumah tangga yang utuh sampai surga, Islam telah menyarankan agar suami istri banyak-banyak beribadah kepada Allah dalam bingkai ibadah kebersamaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Allah merahmati suami yang bangun malam hari kemudian melakukan shalat dan membangunkan istrinya lalu iapun melakukan salat. Apabila istrinya enggan maka ia memercikan wajahnya dengan air. Sebaliknya, Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam hari kemudian melakukan salat, dan membangunkan suaminya. Apabila suaminya enggan maka ia memercikan wajahnya dengan air." (HR Abu Daud: 1239).
Ibadah salat bersama ini salah satu contoh ibadah kebersamaan dalam keluarga yang mesti dilestarikan. Ada banyak ibadah lain yang mesti kita lakukan bersama istri dan anak-anak: ngaji bersama, berzikir bersama, bersedekah bersama, dan ibadah kebersamaan lainnya. Dengan ibadah kebersamaan ini, insyaallah, perceraian tak akan ada, kenyamanan akan selalu ada, dan kebahagiaan dunia akhirat akan diraih. Sungguh indah, bila di dunia kita beribadah bersama dengan mereka, dan di akhirat kita akan bersama-sama menikmati surga Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:
هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
Artinya: "Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh (surga), bertelekan di atas dipan-dipan". (QS Yasin: 56)
Kaum muslimin yang berbahagia…
Faktor Kedua: Akhlaqul-Karimah Sebagai Dinding Kokoh Rumah Tangga.
Seringkali cinta, kecantikan atau ketampanan bukanlah penopang utama dari terbangunnya sebuah rumah tangga dan ikatan pernikahan. Betapa banyak pasutri sukses menata bangunan rumah tangga mereka tanpa diawali oleh rasa cinta, atau ketakjuban terhadap rupa yang tampan atau paras yang cantik.
Hal ini membuktikan bahwa penopang utama kokohnya rumah tangga setelah kriteria iman dan agama adalah kemuliaan akhlak, tutur kata yang lembut, dan indahnya pergaulan antara pasutri. Perkara inilah yang mengekalkan romantisme pernikahan, sebab dalam banyak fakta, pernikahan yang terbangun di atas cinta (pacaran misalnya), atau ketampanan dan kecantikan; juga hancur berantakan lantaran cinta tersebut tak mampu menanamkan akhlak dan pergaulan baik. Sebaliknya, pergaulan dan akhlak baik serta lembutnya tutur kata sedikit demi sedikit akan menanamkan mawaddah dan rahmah tanpa memandang ketampanan dan kecantikan. Kriteria inilah yang ditekankan oleh Allah -Ta'ala- dalam firman-Nya:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Artinya: “Bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara baik”. (QS.An-Nisa’ : 19).
Sikap ini jugalah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dalam membina rumah tangga beliau. Tutur kata beliau yang selalu santun, tak menampakkan rasa kesal apalagi sikap kasar, membuat rumah tangga beliau indah dan bahagia. Bahkan di sela-sela kesibukan beliau dalam mengurusi pemerintahan negeri islam, beliau tak segan-segan membantu pekerjaan rumah istri-istri beliau, sebagaimana yang dikisahkan oleh istri beliau Aisyah -radhiyallahu'anha-:
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ
Artinya: "Beliau selalu membantu aktivitas (rumah) istrinya, dan bila waktu shalat telah tiba, beliau akan keluar (untuk menunaikan shalat)". (HR Bukhari dalam Adab Mufrad: 538, shahih).
Ini merupakan salah satu potret pergaulan indah terhadap istri, yang apabila dikerjakan oleh sang suami setiap kali memiliki waktu luang, tentu akan semakin menumbuhkan rasa sakinah, mawaddah, wa rahmah. Rasulullah -shallallahu'alaihi wasallam- juga bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمانًا أَحْسَنُهم خُلُقًا، وخِيَارُكم خِيَارُكم لِنِسَائِهِمْ
Artinya: "Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya". (HR Tirmidzi: 1162, shahih).
Bahkan akhlaqul-karimah ini wajib pula diwujudkan ketika bergaul dengan putra putri kita, sebab mereka paling berhak mendapatkan pergaulan yang baik dan merasakan indahnya suasana keluarga dan rumah tangga yang mengayomi mereka.
Kecupan kasih sayang, tutur kata yang lembut, dan arahan-arahan yang bijak semakin akan mengharmoniskan hubungan antara kita dengan mereka dan tentunya akan menghiasi suasana rumah serasa "surga".
Sikap-sikap seperti inilah yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersama anak-anaknya sebagaimana dikisahkan oleh Aisyah -radhiyallahu'anha-: “Ketika Fathimah datang kepada Nabi, Nabi berdiri menyambutnya lalu mengambil tangannya kemudian menciumnya dan membawanya duduk di tempat duduk beliau, dan apabila Nabi datang kepada Fathimah, Fathimah berdiri menyambut beliau lalu mengambil tangan beliau kemudian menciumnya, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya”. (HR Abu Daud: 8217, Tirmidzi: 4210, shahih).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Faktor Ketiga: Sabar dan Syukur Sebagai Hiasan Rumah Tangga
Bahagia dan sedih, senang dan susah, pasti akan datang silih berganti dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga. Dari sinilah keteguhan seorang suami dan kesabaran seorang istri diuji oleh Allah -Ta'ala-. Bahkan sukses tidaknya atau bahagia tidaknya suatu rumah tangga diukur dari reaksi dan sikap mereka tatkala bahagia atau sedih.
Suatu keluarga dianggap bahagia bila merealisasikan rasa syukur kepada Allah -Ta'ala- dan merasa cukup / qana'ah atas setiap nikmat dan karunia yang dianugerahkan-Nya, serta menampakkan sikap sabar dan penuh tawakkal bila ada problem, bencana, atau kesusahan yang menimpa mereka. Hal ini ditegaskan oleh banyak ayat dan hadis, di antaranya:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: ”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapat kesenangan dia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Sebaliknya, apabila mendapat musibah dia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR Muslim: 2999).
Problem rumah tangga tentunya begitu banyak, jenis dan beratnya pun beragam. Nah, seorang muslim yang hakiki harusnya bersikap dewasa dan tenang ketika menghadapi problem-problem ini, tanpa harus mengedepankan perasaan pribadi atau memprioritaskan sikap egoisme.
Dengan tiga poin ini (ibadah, akhlak, serta sabar dan syukur), keluarga dan rumah tangga akan terus terbina dalam suasana bahagia dan ceria, dan para anggotanya akan terus merasakan cinta dan kasih sayang, bukan hanya dalam rumah fana yang kini ada, namun akan terus berlanjut hingga rumah yang abadi di surga 'Adn, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ
Artinya: "(Yaitu) Surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya". (QS Ar-Ra'd: 23).
Akhir kata, marilah banyak berdoa kepada Allah -Ta'ala- agar selalu menjadikan keluarga dan rumah tangga kita semua dan setiap muslim sebagai rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Ya Rabb, masukkanlah kami ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada kami dan masukkanlah pula orang tua kami, istri-istri kami, dan keturunan kami ke dalamnya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Marilah kita pada khutbah kedua ini, berazam dan berkomitmen, bahwa kebahagiaan dunia akhirat rumah tangga kita adalah harga mati, bahwa kita wajib menjaga keutuhannya sampai di surga Allah Ta’ala. Semoga Allah mengumpulkan seluruh anggota keluarga kita di surga-Nya, sebagaimana Dia telah mengumpulkan anggota keluarga kita semua di dunia dalam satu rumah. Amin.
Marilah bershalawat dan memohon kepada Allah agar Dia memberikan kita semua hidayah untuk rajin beribadah dan berakhlak mulia, membahagiakan diri kita, keluarga kita, tetangga kita, masyarakat kita, bangsa kita, dan umat kita.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/KeluargaBahagiaHinggaKeSurga

