JUMAT, 19 Jumadilawal 1448 H / 30 Oktober 2026 M
Oleh Abdullah Nazhim Hamid, S.T., Lc., M.Ag.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Bayangkan, suatu malam kita mendengar suara puluhan sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Knalpot meraung-raung, sekelompok anak muda berkumpul, sebagian membawa senjata tajam, dan masyarakat mulai merasa khawatir.
Orang tua takut anaknya menjadi korban. Pengendara takut melintas. Warga takut keluar rumah. Mengapa? Karena ada sekelompok pemuda yang justru menjadi sumber ketakutan masyarakat.
Padahal, saudara-saudaraku sekalian, beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati sebuah peristiwa bersejarah: Sumpah Pemuda.
Pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, tetapi memiliki cita-cita yang sama: satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Para pemuda itu berkumpul bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. Bukan untuk mempertontonkan kekuatan di jalanan. Bukan untuk saling menyerang. Mereka berkumpul untuk memikirkan masa depan bangsanya.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Hari ini kita patut bertanya kepada diri kita sendiri. Mengapa pemuda dahulu mampu berkumpul untuk memperjuangkan masa depan bangsa, sementara sebagian pemuda hari ini justru berkumpul untuk merusak masa depan mereka sendiri?
Mengapa energi yang seharusnya digunakan untuk membangun, justru digunakan untuk menghancurkan?
Mengapa keberanian yang seharusnya digunakan untuk membela kebenaran, justru digunakan untuk menzalimi orang lain?
Namun, jamaah sekalian, jangan sampai kita memandang generasi muda dengan pandangan pesimis. Sebab ketika kita membuka Al-Qur'an, kita menemukan sesuatu yang sangat menarik. Allah banyak mengabadikan kisah para pemuda. Bahkan, beberapa perubahan besar dalam sejarah manusia justru dimulai melalui tangan para pemuda.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
1. Ashabul Kahfi: Pemuda yang Berani Berbeda demi Kebenaran
Perhatikan bagaimana Allah memperkenalkan Ashabul Kahfi dalam surah Al-Kahfi ayat 13:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
"Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka."
Perhatikan kata yang digunakan Allah:
فِتْيَةٌ — para pemuda.
Allah mengabadikan sekelompok pemuda yang hidup di tengah masyarakat yang menyimpang dalam akidahnya. Mereka memiliki keberanian untuk mempertahankan iman, meskipun harus berhadapan dengan tekanan penguasa dan masyarakat.
Allah berfirman:
وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا
"Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata, 'Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru tuhan selain Dia.'" (QS. Al-Kahfi: 14).
Lihatlah, saudara-saudaraku.
Mereka adalah kelompok pemuda. Mereka memiliki solidaritas dan keberanian. Tetapi solidaritas mereka dibangun di atas keimanan.
Mereka saling menguatkan untuk mempertahankan kebenaran, bukan saling mendukung dalam kemaksiatan. Inilah pelajaran pertama bagi generasi muda kita.
Tidak semua keberanian adalah kemuliaan. Tidak semua solidaritas adalah kebaikan. Seorang pemuda yang berani melawan orang lain belum tentu pemberani sejati.
Seorang pemuda yang berani menolak ajakan teman-temannya untuk berbuat maksiat, meskipun harus kehilangan kelompok pertemanannya, justru menunjukkan keberanian yang sangat berharga.
Sebab Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2).
Maka kepada anak-anak muda kita, jangan merasa hebat karena memiliki banyak teman yang siap membantu ketika berkelahi. Carilah teman yang siap mengingatkan ketika kita meninggalkan salat. Teman yang mengajak ke masjid. Teman yang membantu ketika kita kesulitan. Itulah persahabatan yang akan menyelamatkan, bukan persahabatan yang menyeret kepada kehancuran.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
2. Nabi Ibrahim dan Pengikut Musa: Pemuda yang Berani Membela Kebenaran
Contoh berikutnya adalah Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Ketika masyarakatnya menyembah berhala, Nabi Ibrahim tampil menyampaikan kebenaran.
Allah mengabadikan ucapan kaumnya:
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
"Mereka berkata, 'Kami mendengar seorang pemuda yang membicarakan berhala-berhala itu, namanya Ibrahim.'" (QS. Al-Anbiya: 60).
Perhatikan! Ibrahim ketika itu dikenal sebagai seorang pemuda.
Tetapi masa mudanya tidak dihabiskan untuk sekadar mencari pengakuan manusia.
Beliau memiliki prinsip. Beliau menggunakan akalnya untuk merenungkan kebenaran, kemudian berani mempertahankannya.
Demikian pula dalam kisah Nabi Musa. Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 83:
فَمَا آمَنَ لِمُوسَىٰ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَىٰ خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ
"Maka tidak ada yang beriman kepada Musa selain sebagian keturunan dari kaumnya, dalam keadaan takut kepada Fir'aun dan para pemuka kaumnya bahwa mereka akan menyiksa mereka."
Sebagian ahli tafsir, di antaranya Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa kata dzurriyyah dalam ayat ini menunjukkan generasi muda. Mereka menerima kebenaran meskipun mengetahui ada risiko besar yang harus dihadapi.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Dua kisah ini mengajarkan bahwa pemuda memiliki potensi keberanian yang luar biasa. Namun keberanian itu harus memiliki arah. Apa gunanya seorang pemuda berani menghadapi puluhan orang di jalanan, tetapi tidak berani menolak ajakan temannya untuk meminum minuman keras? Apa gunanya merasa hebat karena tidak takut kepada kelompok lain, tetapi tidak memiliki rasa takut kepada Allah ketika melakukan dosa? Pemuda hebat bukanlah pemuda yang tidak takut kepada siapa pun. Pemuda hebat adalah pemuda yang rasa takutnya kepada Allah membuatnya berani meninggalkan keburukan.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
3. Nabi Dawud: Kekuatan Pemuda untuk Melindungi, Bukan Menyakiti
Allah juga mengisahkan Nabi Dawud 'alaihissalam ketika menghadapi Jalut. Allah berfirman:
وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ
"Dan Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberinya kerajaan dan hikmah serta mengajarinya apa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 251).
Dalam penjelasan para ahli tafsir, Dawud ketika itu masih muda. Beliau menghadapi Jalut dalam peperangan yang sah di bawah kepemimpinan Thalut, bukan dalam tindakan kekerasan tanpa aturan. Dawud menunjukkan keberanian yang disertai keimanan. Keberanian yang digunakan untuk menghadapi kezaliman, bukan menciptakan kezaliman.
Inilah yang harus kita ajarkan kepada anak-anak muda. Jika Allah memberikan tubuh yang kuat, gunakan untuk membantu orang tua. Jika Allah memberikan keberanian, gunakan untuk melindungi orang yang lemah. Jika Allah memberikan keterampilan mengendarai kendaraan, gunakan dengan bertanggung jawab, bukan membahayakan nyawa orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka sangat disayangkan apabila seorang pemuda merasa bangga ketika orang-orang takut melihat kedatangannya. Seharusnya kehadiran seorang muslim membuat orang lain merasa aman.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
4. Nabi Yusuf, Yahya, dan Ismail: Pemuda yang Mampu Mengendalikan Diri
Kehebatan pemuda bukan hanya terlihat ketika menghadapi musuh dari luar. Ada musuh yang jauh lebih dekat, yaitu hawa nafsunya sendiri. Perhatikan Nabi Yusuf 'alaihissalam. Ketika beliau berada dalam situasi yang sangat menggoda untuk melakukan perbuatan keji, apa jawabannya?
قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ
"Dia berkata, 'Aku berlindung kepada Allah.'" (QS. Yusuf: 23).
Yusuf memiliki kesempatan untuk bermaksiat, tetapi memilih menjaga kehormatan dirinya.
Demikian pula Nabi Yahya 'alaihissalam. Allah berfirman:
يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
"Wahai Yahya, peganglah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah ketika masih kanak-kanak." (QS. Maryam: 12).
Allah memberikan kepada Yahya pemahaman dan hikmah sejak kecil. Artinya, masa muda bukan alasan untuk menunda kesalehan. Jangan mengatakan, "Nanti kalau sudah tua, barulah saya rajin salat. Nanti kalau sudah berkeluarga, barulah saya memperbaiki diri." Siapa yang menjamin kita akan mencapai usia tua?
Kemudian perhatikan Nabi Ismail 'alaihissalam. Ketika ayahnya, Nabi Ibrahim, menyampaikan perintah Allah yang sangat berat, Ismail menjawab:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102).
Subhanallah!
Ada pemuda yang menjadikan orang tuanya menangis karena kenakalannya. Tetapi Ismail menjadi pemuda yang menguatkan hati ayahnya dalam menaati perintah Allah.
Wahai para pemuda, jadilah sebab orang tua kita tersenyum karena kebaikan kita, bukan menangis karena perbuatan kita.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
5. Pemuda Ashabul Ukhdud: Satu Pemuda yang Mengubah Masyarakat
Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menceritakan seorang pemuda beriman yang menghadapi raja zalim. Kisah ini berkaitan dengan peristiwa Ashabul Ukhdud yang disebutkan dalam surah Al-Buruj. Pemuda itu belajar kebenaran, beriman kepada Allah, dan menjadi sebab banyak manusia mendapatkan hidayah. Ketika raja berusaha membunuhnya, Allah beberapa kali menyelamatkannya.
Akhirnya pemuda tersebut menjelaskan bahwa raja tidak akan mampu membunuhnya kecuali dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda itu. Ketika raja melakukannya di hadapan masyarakat, orang-orang justru menyatakan:
آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ
"Kami beriman kepada Tuhan pemuda itu." (HR. Muslim)
Perhatikan, jamaah sekalian. Seorang pemuda bisa menjadi sebab berubahnya masyarakat. Bukan karena kekayaannya. Bukan karena jabatannya. Bukan karena memiliki banyak pengikut di media sosial. Tetapi karena keimanan dan keteguhannya.
Bayangkan jika anak-anak muda kita memiliki semangat seperti ini. Masjid akan dipenuhi pemuda. Lingkungan akan memiliki relawan-relawan muda. Orang tua akan memiliki anak-anak yang berbakti. Masyarakat akan memiliki generasi yang dapat dipercaya. Itulah generasi yang kita harapkan.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
7. Tanggung Jawab Kita terhadap Generasi Muda
Maraknya geng motor dan kenakalan remaja tidak cukup diselesaikan hanya dengan mencela para pemuda. Kita juga harus bertanya: sudahkah kita membimbing mereka? Sudahkah para ayah menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak-anaknya? Sudahkah kita mengetahui siapa teman-teman mereka, ke mana mereka pergi pada malam hari, dan apa yang mereka lakukan ketika jauh dari pengawasan kita? Sudahkah masjid-masjid kita menyediakan ruang yang ramah bagi generasi muda untuk belajar, beraktivitas, dan membangun persaudaraan?
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6).
Maka tugas kita bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan makanan, pakaian, kendaraan, dan pendidikan. Tetapi memastikan mereka mengenal Allah, mencintai Rasulullah ﷺ, memahami halal dan haram, serta memiliki lingkungan pertemanan yang baik. Jangan sampai kita begitu bangga membelikan sepeda motor untuk anak, tetapi tidak pernah mengajarkan tanggung jawab ketika mengendarainya.
Jangan sampai kita begitu khawatir anak kehilangan telepon genggamnya, tetapi tidak khawatir ketika ia kehilangan salatnya. Mari jadikan momentum Sumpah Pemuda ini sebagai kesempatan untuk memperbarui tanggung jawab kita. Jika para pemuda tahun 1928 mampu bersatu untuk memikirkan masa depan bangsa, maka pemuda muslim hari ini harus mampu bersatu dalam iman, ilmu, akhlak, dan amal saleh untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Semoga Allah menjaga anak-anak muda kita dari segala bentuk kerusakan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
Rasulullah ﷺ menyebutkan tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satunya adalah:
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ
"Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Mengapa pemuda ini mendapatkan keutamaan yang begitu besar? Karena masa muda adalah masa ketika kekuatan sedang berada di puncaknya, keinginan begitu banyak, godaan begitu besar, dan kesempatan bermaksiat begitu terbuka. Namun di tengah semua itu, ia memilih untuk taat kepada Allah.
Wahai para pemuda. Suatu hari nanti, masa muda yang hari ini kita banggakan akan berlalu. Tubuh yang kuat akan melemah. Wajah yang muda akan menua. Suara yang lantang akan melemah. Dan setiap kita akan berdiri di hadapan Allah mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan." (HR. Tirmidzi, no. 2417; dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi).
Bayangkan ketika Allah menanyakan kepada kita tentang masa muda dan kekuatan yang pernah diberikan-Nya. Apa yang akan kita jawab? Apakah kekuatan itu kita gunakan untuk membantu orang lain, atau justru untuk menyakiti mereka?Apakah waktu muda kita gunakan untuk menuntut ilmu, atau hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat? Apakah orang tua kita merasakan kebahagiaan karena kehadiran kita, atau justru menghabiskan malam dengan kecemasan menunggu kita pulang?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah...
Kita tidak ingin generasi muda kita dikenang karena kerusakan yang mereka tinggalkan. Kita ingin mereka dikenang karena kebaikan yang mereka perjuangkan. Kita ingin lahir kembali pemuda-pemuda yang menjaga iman seperti Ashabul Kahfi, berani membela kebenaran seperti Ibrahim, kuat seperti Dawud, menjaga kehormatan seperti Yusuf, mencintai ilmu seperti Yahya, dan berbakti seperti Ismail. Jangan biarkan pemuda yang seharusnya menjadi harapan masa depan, justru menjadi sumber ketakutan masyarakat pada hari ini.
Dan kepada pemuda yang pernah terjerumus dalam kesalahan, pintu tobat Allah masih terbuka. Masa lalu yang buruk tidak harus menentukan masa depan. Pulanglah kepada Allah. Tinggalkan lingkungan yang merusak. Carilah sahabat yang baik. Mulailah memperbaiki salat dan berbakti kepada orang tua.
Semoga Allah menjadikan generasi muda kita sebagai generasi yang membanggakan orang tuanya, bermanfaat bagi bangsanya, dan mulia di sisi Tuhannya.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/KetikaPemudaMenjadiHarapan

