JUMAT, 20 Rabiulakhir 1448 H / 2 Oktober 2026 M
Oleh Rachmat Badani, Lc., M.A.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Aku berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan sebenar-benarnya takwa. Di antara wujud ketakwaan seorang hamba adalah menjaga kehormatan dirinya dengan menaati batas-batas yang telah Allah tetapkan, termasuk dalam persoalan pakaian, aurat, pandangan, dan pergaulan.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Di antara realitas yang patut menjadi perhatian pada zaman ini adalah semakin dianggap ringannya persoalan aurat dan kehormatan. Sebagian laki-laki tidak lagi memperhatikan batas auratnya, mengenakan pakaian yang terlalu pendek atau ketat, bahkan mempertontonkan tubuhnya tanpa merasa bahwa hal tersebut berkaitan dengan ketaatan kepada Allah. Demikian pula, sebagian perempuan keluar dengan pakaian yang belum memenuhi tuntunan syariat: terbuka, tipis, ketat, atau menampakkan bentuk tubuh. Media sosial semakin memperluas persoalan ini. Foto dan video yang dahulu mungkin hanya terlihat oleh beberapa orang, kini dapat disaksikan ribuan bahkan jutaan manusia. Lebih mengkhawatirkan lagi, pelanggaran terhadap batas-batas tersebut perlahan dapat dianggap sebagai sesuatu yang biasa, sedangkan ajakan untuk menjaga aurat terkadang justru dianggap berlebihan atau tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Akibat Meremehkan Aurat dan Kehormatan:

Pertama, meremehkan aurat dapat melemahkan rasa malu, padahal rasa malu merupakan bagian dari iman. Ketika seseorang terbiasa mempertontonkan sesuatu yang diperintahkan Allah untuk ditutupi, batas antara yang pantas dan tidak pantas perlahan menjadi kabur. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Artinya: “Rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim).

Maka persoalan aurat bukan semata-mata persoalan kain dan pakaian, apalagi persoalan model dan tren. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu ketundukan seorang hamba kepada Allah, penjagaan rasa malu, dan penghormatan terhadap kehormatan manusia.

Kedua, hilangnya perhatian terhadap aurat dan kehormatan dapat membuka pintu-pintu fitnah. Syariat tidak hanya memerintahkan menutup aurat, tetapi juga memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menjaga pandangan dan memelihara kehormatan. Islam menutup jalan menuju perbuatan keji sebelum manusia terjatuh ke dalamnya. Ketika pandangan tidak dijaga, aurat dipertontonkan, pergaulan tidak dikendalikan, dan semua itu diperluas melalui media digital, maka godaan semakin mudah memasuki hati. Allah bahkan tidak sekadar melarang zina, tetapi melarang mendekati segala jalan yang mengantarkan kepadanya:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isrā’: 32).

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Lalu bagaimana seorang Muslim menjaga dirinya dan keluarganya? Ada beberapa jalan keselamatan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pertama: menutup aurat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

Artinya: “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik.” (QS. al-A‘rāf: 26).

Ayat ini mengingatkan bahwa salah satu fungsi mendasar pakaian adalah menutup aurat. Karena itu, ukuran pakaian seorang mukmin tidak hanya indah atau tidak, mahal atau murah, modern atau tidak modern. Pertanyaan yang lebih dahulu diajukan adalah: apakah pakaian ini sesuai dengan ketentuan Allah?

Khusus kepada kaum perempuan, Allah berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

Artinya: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS. al-Nūr: 31).

Kedua: menjaga pandangan.

Kewajiban menjaga kehormatan tidak hanya dibebankan kepada perempuan. Sebelum memerintahkan perempuan beriman menjaga pandangannya, Allah terlebih dahulu memerintahkan laki-laki beriman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS. al-Nūr: 30).

Rasulullah ﷺ juga bersabda kepada ‘Alī raḍiyallāhu ‘anhu:

يَا عَلِيُّ، لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

Artinya: “Wahai ‘Alī, janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya bagimu pandangan yang pertama, tetapi tidak bagimu pandangan berikutnya.” (HR. Abū Dāwud dan al-Tirmiżī).

Di zaman teknologi dan smartphone hari ini, menjaga pandangan tidak lagi hanya ketika berjalan di pasar atau di jalan raya. Menjaga pandangan juga berlaku ketika membuka media sosial, menonton video, menjelajah internet, dan berada seorang diri dengan gawai di tangan.

Ketiga: menumbuhkan kembali rasa malu sebagai bagian dari iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Artinya: “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang masih diketahui manusia adalah: apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhārī).

Malu yang terpuji bukanlah minder dan bukan pula kelemahan. Malu adalah sifat yang menghalangi seorang mukmin melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan Allah. Ketika rasa malu hidup, seseorang akan malu mempertontonkan auratnya, malu melihat yang diharamkan, malu menyebarkan foto yang tidak pantas, dan yang paling utama: malu kepada Allah yang mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi.

Keempat: menjaga kehormatan diri dan menjauhi seluruh jalan menuju zina.

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ۝ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ۝ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Mu’minūn: 5–7).

Karena itu, menjaga kehormatan berarti menjaga seluruh pintunya: pandangan, pakaian, percakapan, pergaulan, hingga komunikasi melalui media sosial.

Kelima: menjaga keluarga dari sebab-sebab yang mengantarkan kepada kemaksiatan.

Allah Ta‘ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. al-Taḥrīm: 6).

Ayah dan ibu tidak cukup hanya memastikan anak-anaknya makan, bersekolah, dan memiliki kebutuhan materi. Orang tua juga bertanggung jawab menanamkan rasa malu, mengajarkan batas aurat, mengawasi pergaulan, serta membimbing penggunaan telepon pintar dan media sosial. Jangan sampai anak mengenal mode pakaian dari dunia luar sebelum mengenal batas-batas yang ditetapkan oleh Allah.

Keenam: segera bertaubat apabila selama ini telah lalai.

Jangan berputus asa bagi siapa pun yang selama ini belum menjaga aurat atau pernah terjerumus dalam perbuatan yang merusak kehormatan. Pintu taubat Allah terbuka. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. al-Nūr: 31).

Jangan menunggu menjadi baik untuk bertaubat. Bertaubatlah agar Allah membimbing kita menjadi lebih baik. Jangan menunggu usia tua untuk menutup aurat dengan sempurna, karena tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Aurat adalah amanah. Pandangan adalah amanah. Kehormatan adalah amanah. Anak dan keluarga kita pun adalah amanah. Jangan sampai sesuatu yang dianggap kecil di dunia menjadi sebab penyesalan ketika berdiri di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Mari memperbaiki diri dan keluarga kita. Tutuplah apa yang Allah perintahkan untuk ditutup. Jagalah pandangan dari apa yang Allah haramkan. Peliharalah kehormatan diri dan keluarga. Dan jadikanlah rasa malu sebagai perhiasan iman.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Sekali lagi kami berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Dari khutbah pertama tadi, hendaknya kita membawa pulang beberapa pelajaran penting.

Pertama, menutup aurat bukan sekadar adat dan budaya, tetapi bagian dari ketaatan kepada Allah.

Kedua, kewajiban menjaga kehormatan berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Laki-laki diperintahkan menutup aurat dan menjaga pandangan, sebagaimana perempuan diperintahkan menutup aurat, menjaga pandangan, dan menjaga kehormatannya.

Ketiga, rasa malu adalah bagian dari iman. Jangan biarkan kebiasaan masyarakat atau budaya media sosial menghilangkan rasa malu yang telah Allah tanamkan dalam diri seorang mukmin.

Keempat, menjaga kehormatan harus dimulai dari pintu-pintunya: menjaga pandangan, pakaian, pergaulan, ucapan, serta penggunaan media sosial.

Kelima, jagalah keluarga kita. Ajarkan anak laki-laki dan perempuan tentang aurat dan kehormatan sejak dini, bukan hanya dengan perkataan, tetapi juga dengan keteladanan.

Keenam, siapa pun yang pernah lalai hendaknya kembali kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni apabila seorang hamba benar-benar kembali kepada-Nya.

Kemudian ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersalawat kepada Nabi-Nya:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Download PDFnya di https://bit.ly/KewajibanMenutupAuratDan