JUMAT, 22 Rabiulawal 1448 H / 04 September 2026 M
Oleh Abdullah Nazhim Hamid, S.T., Lc., M.Ag.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Ada satu pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan.

Mengapa Rasulullah ﷺ begitu perhatian terhadap beberapa sentimeter jarak di antara dua orang yang sedang salat?

Mengapa bahu harus sejajar?

Mengapa celah harus ditutup?

Mengapa ketika saudara kita hendak masuk ke dalam saf, kita diperintahkan untuk melunak dan memberinya ruang?

Bukankah masing-masing tetap bisa salat walaupun ada sedikit jarak?

Ternyata Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kerapian barisan.

Beliau sedang mendidik jiwa manusia.

Karena salah satu masalah terbesar manusia bukan hanya dosa yang dilakukan oleh tangan dan kaki.

Ada dosa dan penyakit yang tumbuh di dalam dada: ego yang sulit mengalah, kesombongan yang tidak mau disejajarkan, hati yang keras menerima saudara, iri dan dengki, prasangka buruk, keinginan selalu didengar, dan perasaan: “Kenapa saya yang harus bergeser?”

Maka salah satu madrasah tazkiyatun nufus yang kita masuki berulang kali setiap hari adalah saf salat berjamaah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ، وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الْخَلَلَ، وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ

Artinya: “Luruskanlah saf-saf kalian, sejajarkanlah bahu-bahu kalian, tutuplah celah-celah, bersikaplah lunak terhadap saudara-saudara kalian, dan jangan kalian meninggalkan celah bagi syaitan.”

Dalam kelanjutan hadis disebutkan:

وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Barang siapa menyambungkan saf, Allah akan menyambungnya; dan barang siapa memutus saf, Allah akan memutusnya. (HR. Abu Dawud, no. 666; hadis ini dinilai sahih).

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Mari kita resapi kalimat demi kalimatnya.

Bukan untuk mengubah makna fikih hadis tersebut. Secara asal, hadis ini memang berbicara tentang tata cara menyempurnakan saf.

Tetapi di balik syariat itu terdapat pendidikan jiwa yang sangat dalam.

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ — Luruskanlah Saf Kalian

Mengapa kita perlu diluruskan?

Karena manusia mempunyai kecenderungan ingin berjalan menurut keinginannya sendiri.

Setiap orang merasa posisinya sudah benar.

Setiap orang punya ukuran sendiri.

Tetapi ketika berdiri dalam saf, kita tidak ditanya:

“Menurut Anda, posisi yang nyaman di mana?”

Tidak.

Kita diperintahkan untuk meluruskan diri.

Dan tazkiyatun nufus dimulai dari keberanian untuk mengatakan kepada diri sendiri:

“Mungkin saya yang perlu diperbaiki.”

Bukan selalu:

“Dia yang salah.”

“Dia yang harus berubah.”

“Dia yang harus meminta maaf duluan.”

Salah satu tanda penyakit hati adalah mudah sekali melihat bengkoknya orang lain, tetapi sulit melihat bengkoknya diri sendiri.

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Terjemahnya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Tazkiyah bukan pekerjaan memperbaiki orang lain terlebih dahulu.

Tazkiyah dimulai dengan meluruskan diri sendiri.

Ketika hubungan kita dengan saudara bermasalah, sebelum bertanya:

“Apa salah dia?”

cobalah bertanya:

“Apakah ada kesombongan dalam diri saya?”

“Apakah ada hasad?”

“Apakah saya terlalu mudah berprasangka?”

“Apakah saya pernah menyakiti lisannya?”

“Apakah sebenarnya yang terluka adalah agama, atau hanya ego saya?”

Itulah makna besar yang bisa kita renungkan ketika imam berkata:

“Luruskan saf.”

Seakan-akan kita sedang diingatkan:

Luruskan pula jiwamu.

وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ — Sejajarkan Bahu Kalian

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Di luar masjid manusia memiliki banyak label.

Ada direktur dan karyawan.

Ada pejabat dan rakyat.

Ada orang kaya dan orang sederhana.

Ada guru dan murid.

Ada profesor dan orang yang bahkan tidak pernah merasakan bangku kuliah.

Tetapi ketika azan dikumandangkan dan mereka berdiri di hadapan Allah, semuanya diminta:

وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ

“Sejajarkan bahu kalian.”

Tidak ada bahu seorang kaya yang harus berada lebih depan karena kekayaannya.

Tidak ada bahu seorang pejabat yang harus lebih tinggi karena jabatannya.

Tidak ada bahu seseorang yang boleh menekan saudaranya hanya karena ia merasa lebih penting.

Kita semua adalah hamba Allah.

Inilah salah satu obat kesombongan.

Kita mungkin berbeda dalam banyak urusan dunia.

Tetapi di hadapan Allah:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Terjemahnya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Maka jangan meremehkan saudaramu.

Jangan hanya karena pendidikannya lebih rendah, kita menganggap pendapatnya tidak layak didengar.

Jangan karena pakaiannya sederhana, kita merasa lebih tinggi.

Jangan karena ia baru belajar agama, kita memperlakukannya dengan kasar.

Boleh jadi orang yang kita pandang biasa itu lebih bersih hatinya di sisi Allah.

Boleh jadi orang yang tidak dikenal manusia itu sangat dikenal oleh penduduk langit.

Saf mengajarkan kita menurunkan bahu kesombongan agar bisa sejajar dengan saudara.

وَسُدُّوا الْخَلَلَ — Tutup Celah di Antara Kalian

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Celah kecil dalam saf diperintahkan untuk segera ditutup.

Mengapa?

Karena celah yang dibiarkan akan merusak kesempurnaan barisan.

Begitu pula persaudaraan.

Sering kali perpecahan besar tidak dimulai dari masalah besar. Ia dimulai dari celah kecil: Pesan whatsapp yang tidak dibalas, ucapan yang sedikit menyinggung, undangan yang terlupakan, pembagian tugas yang dianggap tidak adil, pendapat kita yang tidak diterima, atau seseorang lewat tetapi tidak menyapa.

Kemudian muncul prasangka.

“Sepertinya dia tidak suka saya.”

Lalu prasangka berubah menjadi pembicaraan, Pembicaraan berubah menjadi ghibah, Ghibah berubah menjadi kebencian, Dan beberapa bulan kemudian dua orang yang sebelumnya bersaudara bahkan tidak lagi mau duduk bersama.

Syaitan tidak selalu membutuhkan pintu yang besar.

Cukup berikan kepadanya sebuah celah.

Karena itulah Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Terjemahnya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Perhatikan.

Allah tidak mengatakan:

“Kalau hubungan retak, biarkan saja.”

Allah mengatakan:

فَأَصْلِحُوا       

“Perbaikilah.”

Tutup celahnya.

Kalau ada salah paham, klarifikasi.

Kalau kita salah, meminta maaf.

Kalau saudara salah lalu meminta maaf, maafkan.

Kalau dua saudara bertengkar, jangan justru menikmati konfliknya.

Jangan tambah panas.

Jangan menyebarkan screenshot.

Jangan mengirim cerita kepada grup lain.

Jadilah orang yang menutup celah, bukan orang yang memperlebarnya.

وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ — Lunaklah terhadap Saudara Kalian

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Boleh jadi inilah bagian hadis yang paling menyentuh untuk kita renungkan.

وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ

“Lunaklah terhadap saudara kalian.”

Maksudnya: apabila seseorang datang hendak masuk ke dalam saf, orang yang berada dalam saf hendaknya melunakkan bahunya dan memberinya ruang hingga ia dapat masuk.

Perhatikan pendidikan jiwa di dalamnya.

Ada saudaramu datang, Kamu sudah berdiri nyaman, Posisimu sudah pas, Lalu kehadirannya membuatmu harus sedikit bergeser.

Apa yang dikatakan Nabi ﷺ?

Lunaklah, Geser sedikit, Berikan tempat, Jangan kaku.

Subhanallah.

Betapa banyak masalah ukhuwah yang sebenarnya bisa selesai kalau kita mau bergeser sedikit.

Bukan bergeser dari prinsip agama.

Bukan mengalah dalam perkara halal dan haram.

Tetapi bergeser dari ego pribadi.

Kadang rumah tangga rusak karena tidak ada yang mau bergeser.

Persahabatan berakhir karena tidak ada yang mau bergeser.

Organisasi pecah karena semua merasa pendapatnya harus diterima.

Sesama aktivis dakwah saling menjauh karena masing-masing ingin caranya yang dipakai.

Padahal terkadang masalahnya bukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Masalahnya adalah:

tidak ada yang mau melunak.

Kita ingin orang lain memahami kita, tetapi kita tidak mau memahami orang lain.

Kita ingin orang lain memaklumi kekurangan kita, tetapi kita sulit memaklumi kekurangan saudara.

Kita ingin kesalahan kita ditafsirkan secara baik, tetapi kesalahan saudara langsung kita tafsirkan dengan kemungkinan yang paling buruk.

Maka Nabi ﷺ mendidik:

وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ

Lunaklah.

Orang beriman bukan manusia tanpa prinsip.

Tetapi orang beriman juga bukan manusia yang keras dalam setiap keadaan.

Allah memuji Rasulullah ﷺ:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Terjemahnya: “Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Kebenaran membutuhkan keteguhan, Tetapi persaudaraan membutuhkan kelembutan.

Dan tazkiyatun nufus adalah kemampuan mengetahui kapan kita harus teguh dan kapan ego kita harus dilunakkan.

وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ — Jangan Berikan Celah kepada Syaitan

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Inilah peringatannya.

Setelah memerintahkan kita merapatkan saf dan melunak kepada saudara, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ

“Jangan meninggalkan celah bagi syaitan.”

Dalam saf, syaitan menyukai adanya celah dan ketidakteraturan.

Dan dalam kehidupan persaudaraan, syaitan juga senang ketika terdapat celah di antara dua orang mukmin.

Allah telah memberitahu kita:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ

Terjemahnya: “Sesungguhnya syaitan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra’: 53).

Perhatikan kata:

يَنْزَغُ

Syaitan mengadu, Memprovokasi, Membisikkan, Membuat sebuah ucapan sederhana terasa jauh lebih menyakitkan.

Syaitan tahu bahwa ia sulit menghancurkan umat sekaligus.

Maka ia mulai dari dua hati.

Ia pisahkan dua saudara.

Lalu dua keluarga.

Lalu dua kelompok.

Kemudian luka yang kecil diwariskan bertahun-tahun.

Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Artinya: “Jangan kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Perhatikan penyakit yang disebutkan.

Hasad. Kebencian. Saling membelakangi.

Semua bermula dari hati.

Maka perjuangan mempertahankan ukhuwah sebenarnya adalah bagian dari jihad melawan hawa nafsu.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Kita sering berdoa ingin umat Islam bersatu.

Tetapi persatuan besar tidak mungkin terjadi kalau hati-hati kecil kita masih penuh dendam.

Bagaimana umat akan bersatu kalau dua saudara kandung tidak berbicara?

Bagaimana umat akan bersatu kalau sesama tetangga saling bermusuhan?

Bagaimana umat akan bersatu kalau berbeda pendapat sedikit langsung saling mencela?

Bagaimana kita ingin menyatukan kaum Muslimin sementara hati kita sendiri sulit memberi ruang kepada seorang saudara?

Karena itulah Al-Qur'an mengajarkan doa yang sangat indah:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Terjemahnya: “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Perhatikan tempat yang diminta untuk dibersihkan:

فِي قُلُوبِنَا

“Di dalam hati kami.”

Karena mungkin kita duduk berdampingan, tetapi hati berjauhan.

Bisa berada dalam satu organisasi, tetapi saling membenci.

Bisa salat dalam satu masjid, tetapi berharap keburukan menimpa saudara sendiri.

Bisa bahkan berjabat tangan, sementara dada penuh dengan dendam.

Maka persaudaraan Islam tidak cukup dibangun dengan slogan.

Ia dibangun dengan jiwa yang terus dibersihkan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...

Selawat kepada Nabi adalah doa sekaligus senjata ampuh bagi setiap mukim, yang sangat dianjurkan pada hari Jumat. Maka marilah kita memperbanyaknya di hari Jumat ini, juga di hari-hari lainnya.

Tak ada mukmin yang merugi karena banyak berselawat, bahkan sebaliknya, orang yang merugi adalah yang malas-malasan mengirimkan selawat kepada baginda Nabi kita, karena setiap selawat adalah keuntungan dan faktor keselamatan, karena selawat adalah zikir pemberi kebahagiaan, pemberi solusi dari kesulitan, penghapus dosa, pencetus rahmat, dan peninggi derajat hamba. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu yang berencana memperbanyak shalawat:

إِذَنْ تُكْفَى هَمُّكَ وَيُكْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Artinya: “Kalau demikian, maka kesusahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni.” (HR Tirmizi: 2457 dengan sanad hasan).

Marilah kita pada khutbah kedua ini, bershalawat dan memohon kepada Allah agar Dia memberikan keberkahan kepada Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, meneguhkan iman di dada kita, memudahkan segala urusan, serta memberikan keselamatan dan kebahagiaan bagi keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di seluruh penjuru dunia, terutama saudara-saudari kita yang sedang tertindas di Bumi Palestina.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Download PDFnya di https://bit.ly/LunasklahKepadaSaudaraMuslimmu