JUMAT, 15 Rabiulawal 1448 H / 28 Agustus 2026 M
Oleh Dr. Muhammad Harsya Bachtiar, Lc., M.A.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Di antara perintah Allah yang agung kepada kita adalah untuk terus menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Terjemahnya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (QS. Ali Imran/ 3:103).
Dengan persatuan kekuatan akan datang. Sebaliknya dengan perpecahan dan perselisihan akan menimbulkan kelemahan. Allah berfirman:
وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ
Terjemahnya: “Dan janganlah kamu berselisih sehingga menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu akan hilang”. (QS. Al-Anfal/ 8:46).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Di tengah kondisi sulit negeri kita saat ini dan ujian yang terus menerpa, mulai dari gempa di NTT hingga kebakaran hutan di Kalimantan, ada saja pihak-pihak yang tampak ingin mengambil kesempatan untuk memecah belah bangsa dan negara demi meraih keuntungan pribadi atau kelompoknya. Maka tidak ada jalan lain untuk mencegah hal itu kecuali dengan menguatkan persatuan dan solidaritas di antara sesama anak bangsa. Persatuan yang tidak terbatas antara rakyat dan rakyat atau pemerintah dengan pemerintah, namun bersifat integrasi antara rakyat dan pemerintah.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Dalam bernegara, ketahuilah bahwa persatuan dan kesatuan tidaklah akan tercapai kecuali dengan masing-masing dari rakyat maupun pemimpin menunaikan kewajibannya. Nabi kita shallallahu alaihi wasallam telah mensabdakan akan hal ini dan menjadikannya sebagai bentuk nasihat dalam agama. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Artinya: “Agama itu adalah nasihat” Kami (sahabat) mengatakan, ‘Untuk siapa? Wahai Rasûlullâh ? Beliau mengatakan, “Untuk Allâh, untuk kitab-Nya, untuk rasul-Nya dan untuk pemimpin kaum Muslimin serta rakyatnya (seluruh kaum Muslimin)”. (HR. Al-Bukhari).
Sebagai pemimpin, kewajiban utama pemerintah adalah menjaga amanah dengan menegakkan keadilan serta bertindak sesuai dengan maslahah dan kepentingan rakyatnya. Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Terjemahnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. An-Nisa/ 4:58)
Mari kita terus menasehati pemimpin kita dengan cara yang baik agar terus berbuat adil dan tidak berbuat kezaliman. Kita ingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah.
Adapun sebagai rakyat, maka kewajiban utamanya adalah taat dan patuh kepada pemimpinnya. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
Terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat)”. (QS. An-Nisa/ 4:59).
Ketahuilah, bahwa memang terkadang kita dapati kekurangan pada pemimpin kita, namun itu bukanlah suatu alasan bagi kita untuk tidak menaatinya dalam perkara-perkara yang makruf (baik). Ketahuilah bahwa ketaatan di tengah kekurangan yang ada, masih jauh lebih baik daripada pemberontakan dan perpecahan di atas kesenangan. Pada satu kesempatan dikisahkan bahwa sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkhutbah di hadapan kaum Muslimin:
أَيُّهَا النَّاسُ أتَّقُوْا اللهَ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهَا حَبْلُ اللهِ الَّذِي أَمَرَ بِهِ وَإِنَّ مَا تَكْرَهُوْنَ فِي الطَّاعَةِ وَالْجَمَاعَةِ خَيْرٌ مِمَّا تُحِبُّوْنَ فِي الْفُرْقَةِ
Artinya, “Wahai Mahusia! Bertakwalah kalian semua kepada Allah, dan berpegangteguhlah dengan ketaatan dan persatuan, karena persatuan itu adalah tali Allah yang telah Dia perintahkan. Sungguh, apa yang dibenci dalam ketaatan dan persatuan, lebih baik dari apa yang disenangi dalam perpecahan.”
Kita juga mengingatkan pesan Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk terus bersama jamaah kaum Muslimin dan tidak keluar darinya dengan pemberontakan atau yang semacamnya yang bisa mengakibatkan pertumpahan darah di antara kaum Muslimin. Waliyadzu billah. Ubadah bin Shamit Radhiyallahu anhu berkata:
دَعَانَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَكَانَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا، أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ
Artinya: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kami, lalu kami membai’at Beliau. Di antara yang Beliau tekankan kepada kami adalah, agar kami selalu mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam keadaan suka maupun tidak suka, dalam kesulitan atau pun kemudahan, bahkan dalam keadaan penguasa lebih mementingkan kepentingannya di atas kepentingan kami. Dan tidak boleh kami mencabut suatu perkara yang berada di tangan ahlinya/penguasa (melakukan pemberontakan)” (HR. Al-Bukhari).
Namun perlu diketahui bahwa hadis ini juga bukan berarti mendiamkan lalu membenarkan setiap kemungkaran yang dilakukan oleh pemimpin. Tidak. Sekali lagi tidak. Hal ini karena sudah menjadi kewajiban kita untuk terus menasehati pemimpin dan mengingkari jika ada kemungkaran darinya karena mengingkari setiap kemungkaran merupakan kewajiban setiap muslim yang tidak terbatas pada sesama rakyat biasa namun dia juga berlaku umum bahkan jika kemungkaran itu bersumber dari pemimpin.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Dan di atas kewajiban-kewajiban itu semua, ada kewajiban yang merupakan persamaan bagi setiap individu anak bangsa baik dalam posisinya sebagai pemimpin atau sebagai rakyat yaitu untuk senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah. Hal ini karena itulah jalan satu-satunya untuk meraih keberkahan dan kemakmuran dari sisi Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Terjemahnya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Al-A’raf/ 7:96).
Semoga negara kita senantiasa diberkahi dan dirahmati oleh Allah dan selalu berada dalam perlindungannya. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Selawat kepada Nabi adalah doa sekaligus senjata ampuh bagi setiap mukim, yang sangat dianjurkan pada hari Jumat. Maka marilah kita memperbanyaknya di hari Jumat ini, juga di hari-hari lainnya.
Tak ada mukmin yang merugi karena banyak berselawat, bahkan sebaliknya, orang yang merugi adalah yang malas-malasan mengirimkan selawat kepada baginda Nabi kita, karena setiap selawat adalah keuntungan dan faktor keselamatan, karena selawat adalah zikir pemberi kebahagiaan, pemberi solusi dari kesulitan, penghapus dosa, pencetus rahmat, dan peninggi derajat hamba. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu yang berencana memperbanyak shalawat:
إِذَنْ تُكْفَى هَمُّكَ وَيُكْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ
Artinya: “Kalau demikian, maka kesusahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni.” (HR Tirmizi: 2457 dengan sanad hasan).
Marilah kita pada khutbah kedua ini, bershalawat dan memohon kepada Allah agar Dia memberikan keberkahan kepada Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, meneguhkan iman di dada kita, memudahkan segala urusan, serta memberikan keselamatan dan kebahagiaan bagi keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di seluruh penjuru dunia, terutama saudara-saudari kita yang sedang tertindas di Bumi Palestina.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/MenjagaPersatuanRI

