JUMAT, 1 Rabiul Awal 1448 H / 14 Agustus 2026 M
Oleh Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala yang masih saja memberikan kesempatan demi kesempatan kepada kita untuk datang bersujud kepadaNya, datang bertaubat kepadaNya, dengan membawa semua beban dosa dan maksiat yang telah sekian lama kita tumpuk. Semoga kita selalu diberikan hidayahNya untuk bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan itu dengan sungguh-sungguh bertaubat dan memperbaiki diri.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Bulan Agustus di negeri ini selalu identik dengan kemerdekaan. Bendera merah putih berkibar di jalan-jalan, berbagai kegiatan diselenggarakan, dan kita mengenang perjuangan para pendahulu yang telah mengorbankan tenaga, harta, bahkan nyawa agar bangsa ini terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan seperti itu tentu merupakan nikmat besar yang wajib kita syukuri, karena keamanan, kebebasan beribadah, kesempatan mencari penghidupan, serta ketenteraman hidup di sebuah negeri tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang biasa.
Namun marilah kita merenung lebih dalam…
Setelah negeri ini merdeka, apakah hati kita juga telah merdeka?
Jangan-jangan secara lahiriah kita hidup sebagai manusia yang bebas, tetapi di dalam dada masih tersimpan banyak bentuk perbudakan yang tidak terlihat. Kita tidak lagi hidup di bawah penjajahan bangsa lain, tetapi hati kita bisa saja diperbudak oleh ketakutan kepada manusia, oleh kecintaan yang berlebihan kepada harta, oleh kegelisahan memikirkan pekerjaan, atau oleh perasaan bahwa masa depan sepenuhnya ditentukan oleh angka-angka yang kita miliki.
Di zaman seperti sekarang, rasa takut semacam itu mudah sekali tumbuh.
Seseorang takut kehilangan pekerjaan, khawatir penghasilannya berkurang, gelisah karena usaha sedang sepi, memikirkan cicilan yang belum selesai, biaya pendidikan anak yang semakin besar, kesehatan orang tua, atau kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan.
Semua kegelisahan itu manusiawi, dan Islam tidak mengajarkan kita untuk berpura-pura seakan-akan kesulitan hidup tidak ada. Akan tetapi, yang harus kita jaga adalah jangan sampai semua sebab duniawi itu mengambil tempat di hati yang seharusnya hanya ditempati oleh keyakinan kepada Allah.
Setiap hari, bahkan berulang kali dalam shalat, kita mengucapkan:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Terjemahnya: “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5).
Ayat yang sangat pendek ini sesungguhnya mengandung makna kemerdekaan yang sangat dalam. Seorang mukmin tetap membutuhkan manusia, karena kehidupan memang dibangun dengan saling membantu. Kita membutuhkan dokter ketika sakit, membutuhkan guru untuk belajar, membutuhkan pelanggan dalam usaha, membutuhkan perusahaan atau orang lain sebagai tempat bekerja, bahkan dalam kehidupan keluarga pun kita saling bergantung dalam urusan sehari-hari.
Akan tetapi, di balik semua hubungan itu, hati seorang mukmin tetap mengetahui bahwa manusia hanyalah sebab, sedangkan yang menentukan hasil akhirnya adalah Allah.
Kita bekerja, tetapi pekerjaan bukan Tuhan kita. Kita mempunyai atasan, tetapi atasan bukan pemberi rezeki. Kita mempunyai pelanggan, tetapi pelanggan bukan penentu kehidupan kita. Kita berobat kepada dokter, tetapi kita mengetahui bahwa kesembuhan tetap berasal dari Allah.
Kita menyusun rencana, menabung, belajar, berusaha, memperluas jaringan, dan mencari jalan keluar, tetapi kita tidak pernah menganggap bahwa semua itu memiliki kekuasaan sendiri tanpa kehendak Allah.
Di sinilah tauhid memerdekakan manusia.
Kalimat syahadat yang kita ucapkan menyucikan akidah kita dari kemusyrikan dan menghapuskan semua bentuk penghambaan kepada selain Allah. Makna ini penting kita renungkan, karena penghambaan yang paling dalam bukan hanya terlihat pada gerakan tubuh, tetapi juga pada ke arah mana hati dan jiwa kita tunduk dan bergantung.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
Terjemahnya: “Bukankah Allah mencukupi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Ayat ini seharusnya selalu menjadi pegangan dalam kehidupan kita masing-masing.
Bukankah sebelum kita mengenal pekerjaan, Allah telah memberi kita makan? Sebelum kita memahami nilai uang, Allah telah menjaga kehidupan kita.
Ketika kita masih berada dalam kandungan dan belum mampu meminta apa pun kepada siapa pun, Allah telah mencukupi kebutuhan kita melalui jalan yang bahkan tidak kita pahami.
Lantas mengapa setelah dewasa, ketika kita mulai mengenal gaji, bisnis, jabatan, dan berbagai fasilitas hidup, hati kita justru mudah merasa bahwa semua itulah yang menentukan keberlangsungan hidup kita?
Hari ini banyak saudara kita merasakan bahwa hidup semakin berat…
Ada seorang ayah yang berangkat bekerja sejak pagi sambil memikirkan apakah penghasilannya cukup sampai akhir bulan. Ada seorang ibu yang berdiri di pasar lalu harus memilih barang mana yang tetap dibeli dan mana yang ditunda. Ada anak muda yang berkali-kali mengirim lamaran pekerjaan, tetapi belum memperoleh jawaban. Ada pedagang yang setiap hari membuka usahanya dengan harapan dagangannya lebih ramai daripada kemarin, sementara di rumah ada keluarga yang menunggu nafkah.
Ada pula orang yang dari luar tampak baik-baik saja, tetapi pada malam hari ia sulit tidur karena memikirkan utang, biaya sekolah anak, atau kebutuhan orang tua yang sedang sakit. Semua itu nyata, dan agama tidak datang untuk mengecilkan penderitaan manusia. Agama justru datang agar kesulitan dunia tidak sampai menghancurkan hubungan kita dengan Allah.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚوَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Terjemahnya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3).
Ayat ini tentu saja tidak sedang mengajak kita untuk meninggalkan usaha. Tawakal bukan berarti duduk tanpa bekerja lalu menunggu pertolongan turun dari langit. Justru Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita agar bersungguh-sungguh mengejar perkara yang bermanfaat sambil tetap meminta pertolongan kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
Artinya: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim).
Inilah keseimbangan seorang mukmin. Tangannya tetap bekerja, pikirannya tetap merencanakan, kakinya tetap melangkah mencari rezeki, tetapi hatinya tidak berpindah dari Allah. Ia sadar bahwa ikhtiar adalah kewajiban, sedangkan hasil berada dalam ketetapan Allah. Karena itu, ketika usahanya berhasil ia tidak sombong, dan ketika hasilnya belum sesuai harapan ia tidak langsung berputus asa.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Masalahnya sering kali bukan karena kita memiliki dunia, tetapi karena dunia mulai memiliki bahkan menguasai hati kita. Seseorang boleh mempunyai harta yang banyak, tetapi belum tentu diperbudak oleh hartanya. Sebaliknya, seseorang yang hartanya sedikit pun bisa menjadi budak harta apabila seluruh hidupnya ditentukan oleh kecemasan dan kecintaannya kepada dunia.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ
Artinya: “Celakalah hamba dinar dan hamba dirham.” (HR. Al-Bukhari).
Mengapa seseorang disebut hamba dinar atau hamba dirham, padahal ia tidak pernah sujud kepada uang?
Karena penghambaan tidak selalu muncul dalam bentuk sujud secara fisik. Kadang-kadang penghambaan muncul ketika seseorang rela mengorbankan ketaatan demi uang, meninggalkan shalat karena pekerjaan, berdusta demi keuntungan, mengambil yang haram karena takut kekurangan, atau mengorbankan harga diri dan prinsip agama agar tetap diterima manusia.
Di zaman digital seperti sekarang, bentuk perbudakan itu semakin halus. Sebagian orang menggantungkan nilai dirinya kepada penilaian manusia. Ia merasa berharga ketika dipuji dan merasa hancur ketika diabaikan. Ia merasa berhasil apabila kehidupannya terlihat mengagumkan di depan orang lain, meskipun kenyataannya ia harus berutang hanya untuk mempertahankan penampilan.
Akhirnya, bukan lagi kebutuhan yang mengatur pengeluaran, tetapi gengsi. Bukan lagi rasa cukup yang menjadi ukuran, tetapi perbandingan dengan kehidupan orang lain.
Karena itu, kemerdekaan sejati bukan berarti kita tidak memiliki kebutuhan, tetapi ketika kebutuhan itu tidak menjadikan kita lupa kepada Allah.
Kemerdekaan sejati adalah ketika kehilangan sebagian dunia tidak membuat kita kehilangan agama. Ketika usaha sedang sepi, kita tetap menjaga shalat. Ketika pendapatan berkurang, kita tetap memilih kejujuran. Ketika pintu manusia tertutup, kita tidak merasa seluruh pintu telah tertutup, karena kita yakin pintu Allah masih terbuka.
Marilah kita merenung sejenak, Jamaah sekalian…
Kenapa banyak di antara kita yang selalu menunda ketenangannya sendiri?
Kita sering berkata dalam hati, “Nanti saya akan tenang kalau utang sudah lunas.” Tapi setelah utang lunas, kita berkata lagi, “Saya akan tenang kalau penghasilan bertambah.” Namun ketika penghasilan bertambah, muncul kebutuhan yang baru. Lalu kita berkata, “Saya akan tenang kalau anak-anak sudah mapan.” Begitulah seterusnya, hingga kita menyadari bahwa apabila ketenangan selalu kita gantungkan kepada keadaan dunia, kita tidak akan pernah benar-benar tenang.
Ketenangan bukan lahir karena seluruh masalah telah selesai. Ketenangan lahir ketika kita mengenal siapa Allah yang menguasai seluruh masalah itu. Ketenangan lahir ketika seluruh hidup dan mati kita sepenuhnya kita serahkan hanya kepada Allah semata.
Oleh karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan hanya sibuk memperbesar penghasilan, tetapi perbesarlah juga tawakal. Ketika kita sibuk memperbaiki strategi hidup, jangan lupa memperbaiki shalat. Ketika kita menghitung tabungan dan kebutuhan, jangan lupa menghitung nikmat yang masih Allah berikan. Ketika kita mencari manusia yang dapat membantu, jangan lupa bahwa yang jauh lebih penting dari itu adalah mengetuk pintu Allah melalui doa, istighfar, sedekah, dan shalat malam.
Karena itu, salah satu hikmah dari kesulitan hidup adalah agar kita kembali menyadari kelemahan kita. Selama hidup berjalan mudah, manusia sering merasa mampu mengendalikan semuanya. Namun ketika satu demi satu rencana tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan, kita mulai memahami bahwa ada kekuasaan yang jauh lebih besar daripada kemampuan kita.
Maka kemerdekaan terbesar adalah ketika seorang hamba mampu berkata dalam hatinya, “Ya Allah, aku akan terus berusaha sekuat tenaga, tetapi aku tahu bahwa bukan usahaku yang berdiri sendiri menentukan hasil. Aku akan mencari rezeki dengan cara yang halal, tetapi aku tahu Engkaulah Ar-Razzaq. Aku akan membuat rencana, tetapi aku ridha jika keputusan-Mu berbeda dengan keinginanku, karena aku percaya pilihan-Mu lebih mengetahui apa yang terbaik bagiku.”
Inilah jiwa yang merdeka. Dunia boleh berada di tangannya, tetapi dunia tidak menguasai hatinya. Ia bekerja di dunia, tetapi sepenuh hidup dan matinya hanya diserahkannya kepada Allah. Ia memiliki banyak urusan, tetapi seluruh urusan itu tidak membuatnya lupa kepada Rabb yang mengatur kehidupan.
Semoga peringatan kemerdekaan negeri ini tidak hanya berhenti pada bendera yang berkibar dan berbagai kegiatan seremonial. Semoga kemerdekaan itu juga masuk ke dalam hati kita, membebaskan kita dari kemusyrikan, dari ketakutan yang berlebihan kepada manusia, dari perbudakan harta dan gengsi, serta dari segala sesuatu yang membuat hati kita berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sekali lagi saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik ketika kehidupan sedang lapang maupun ketika keadaan terasa sempit, karena ketakwaan seorang hamba justru terlihat ketika ia tetap berada di jalan Allah pada saat keadaan tidak berjalan sesuai keinginannya.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Dari khutbah pertama tadi, kiranya kita dapat membawa pulang satu pelajaran sederhana: bekerjalah dengan sungguh-sungguh menggunakan tangan kita, tetapi jangan menyerahkan hati kepada selain Allah. Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan ikhtiar atas nama tawakal, dan Islam juga tidak mengajarkan kita menuhankan ikhtiar hingga melupakan Allah.
Maka teruslah bekerja, belajarlah keterampilan baru apabila keadaan menuntutnya, kelolalah pengeluaran dengan bijak, hindarilah gaya hidup yang melampaui kemampuan, berusahalah melunasi utang, bantulah saudara yang sedang kesulitan, dan didiklah keluarga untuk memahami arti hidup sederhana.
Akan tetapi, setelah semua usaha itu dilakukan, latihlah hati kita untuk berkata, “Allah yang mencukupiku, Allah yang mengetahui kebutuhanku, dan kepada Allah aku menyerahkan hasil akhirnya.”
Jika hari ini kehidupan terasa sempit, jangan biarkan kesempitan dunia membuat hati kita ikut sempit kepada Allah. Boleh jadi uang kita terbatas, tetapi rahmat Allah tidak terbatas. Boleh jadi jalan yang terlihat di hadapan kita sedikit, tetapi kekuasaan Allah tidak pernah terbatas pada apa yang mampu kita lihat. Boleh jadi kita tidak mengetahui bagaimana masalah bulan depan akan selesai, tetapi kita mengenal Rabb yang telah mengatur hari kemarin, hari ini, dan hari-hari yang belum kita jalani.
Karena itu, jangan menjual agama karena tekanan hidup.
Jangan mengambil jalan haram hanya karena jalan halal terasa lebih panjang.
Jangan mengorbankan kejujuran hanya karena keuntungan tampak lebih cepat datang melalui kebohongan.
Sesungguhnya rezeki yang sedikit namun diberkahi jauh lebih menenangkan daripada sesuatu yang banyak tetapi menjauhkan kita dari Allah.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا، وَاسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ.
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ.
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ غَيْثًا هَنِيئًا مَرِيئًا، طَبَقًا مُجَلِّلًا، سَحًّا عَامًّا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، تُحْيِي بِهِ الْبِلَادَ، وَتَسْقِي بِهِ الْعِبَادَ، وَتَجْعَلُهُ بَلَاغًا لِلْحَاضِرِ وَالْبَادِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَمَكْرُوهٍ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِلرَّعِيَّةِ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/MerdekakanJiwamu

