JUMAT, 16 Safar 1448 H / 31 Juli 2026 M
Oleh Mukran H. Usman, Lc, M.H.I.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Kehidupan bukanlah sebuah perjalanan yang tanpa pertanggung jawaban, kehidupan bukanlah sebuah masa dan waktu belaka yang tanpa mendapat perhitungan kelak di akhirat, kehidupan bukanlah hari-hari, bulan dan tahun yang tanpa penghisaban, namun, kehidupan adalah perjalanan, masa, waktu, hari, dan tahun yang setiap makna dari kehidupan tersebut akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah Ta’ala.
Hari-hari yang kita lewati sejatinya bukanlah sekadar pergantian sang waktu, melainkan lembaran-lembaran catatan yang terus terbuka dan merekam setiap helaan napas kita. Setiap detik yang berlalu tidak pernah benar-benar hilang; ia sedang bergerak maju menuju sebuah muara akhir tempat segala rahasia dibongkar dan setiap amal ditimbang dengan setepat-tepatnya. Sungguh, kesadaran inilah yang seharusnya membangunkan kita dari kelalaian, sebab tidak ada satu jengkal pun langkah di dunia ini yang luput dari pengawasan Ilahi.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Setiap manusia, apapun kedudukan dan jabatannya, apapun status sosialnya, dan apapun takdir penciptaannya, maka akan datang kepada mereka waktu, dimana mereka akan diberhentikan dalam satu batas perhentian, untuk mereka akan ditanya dan dimintai pertanggung jawaban kehidupannya.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surah As-Saffat ayat yang ke 24,
وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْؤُولُونَ
Terjemahnya; “Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya”.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Begitu adilnya Allah Ta’ala, begitu bijaksananya Allah, karena tiada satupun makna kehidupan, tiada satupun nilai kehidupan, kecuali makna dan nilai kehidupan tersebut akan diberhentikan disuatu batas perhentian untuk ditanya dan diadili. Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surah al-Hijr ayat 92 dan 93,
فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Terjemahnya: “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”.
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat tersebut: “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua” — Yaitu menanyai setiap orang yang telah mencela al-Qur'an, menghinanya, memalingkan maknanya, serta mengubah-ubah isinya. (Tafsir Al-Sa’di h. 435).
Meskipun ayat ini konteksnya adalah orang-orang kafir yang akan ditanyai di hari kiamat kelak atas perbuatan mereka, namun keumuman makna ayat menegaskan bahwa seluruh manusia —orang beriman maupun orang kafir— akan ditanyai atas setiap perbuatan yang mereka kerjakan di dunia ini.
Ini juga dipertegas dalam firman Allah:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ (7) وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّا يَرَهُۥ
Terjemahnya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al Zilzalah/ 99:7-8).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Diantara makna dan nilai kehidupan yang akan diberhentikan pada batas pemberhentian kelak di akhirat, untuk ditanya dan diadili terlebih dahulu adalah,
Pertama: Makna dan nilai kehidupan berupa pendengaran, penglihatan dan hati. Semua itu akan diberhentikan pada batasnya, untuk kemudian akan ditanya oleh Allah Ta’ala tentang apa yang telah mereka perbuat semasa di dunia. Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surah al-Isra’ ayat yang ke 36,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Terjemahnya ; “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya”.
Ketahuilah, tiga indra ini—pendengaran, penglihatan, dan hati—bukanlah sekadar alat fisik untuk kita menikmati keindahan duniawi semata. Ketiganya adalah amanah agung, pintu-pintu informasi yang terus menyerap dan merekam seluruh peristiwa kehidupan kita. Telinga yang kita gunakan untuk mendengarkan, mata yang kita pakai untuk memandang, serta hati yang menyimpan segala niat dan rahasia, kelak pada hari kiamat tidak lagi menjadi milik kita sepenuhnya. Allah Ta’ala akan mengunci lisan kita, lalu menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati kita berbicara sendiri untuk bersaksi secara jujur dan transparan atas apa yang telah kita lakukan semasa hidup di dunia.
Maka sungguh celakalah hamba yang menggunakan pendengarannya untuk mendengarkan maksiat, memanjakan penglihatannya dengan hal-hal yang diharamkan, serta membiarkan hatinya dipenuhi oleh prasangka buruk, iri, dan kesombongan. Sebaliknya, betapa beruntungnya hamba yang senantiasa menjaga ketiganya; menundukkan pandangannya, menulikan telinganya dari ghibah dan kebatilan, serta membersihkan hatinya agar senantiasa terikat dengan mengingat Allah. Sebelum sampai pada batas pemberhentian itu, marilah kita periksa kembali: ke manakah selama ini pendengaran, penglihatan, dan hati ini lebih banyak kita arahkan?
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Kedua : Makna dan nilai kehidupan berupa umur, ilmu, harta dan jasad. Yang semuanya juga akan diberhentikan pada batas penghisabannya. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassallam,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
Terjemahnya ;“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya”. (HR. Tirmidzi).
Betapa dahsyatnya peristiwa di Mahsyar kelak, ketika seluruh manusia berdiri terpaku tanpa mampu melangkah satu jengkal pun sebelum melewati pemeriksaan ini. Empat nikmat utama ini—umur, ilmu, harta, dan jasad—sering kali kita anggap sebagai milik pribadi yang bebas kita pergunakan sesuka hati. Padahal, segalanya hanyalah titipan sementara. Umur kita yang terus berkurang setiap harinya akan ditanya: apakah ia dihabiskan untuk beribadah atau justru menguap dalam kesenangan yang sia-sia? Ilmu yang kita miliki akan ditagih: apakah ia menjadi jalan hidayah dan amalan nyata, atau hanya sekadar pajangan status dan kesombongan intelektual?
Bahkan terhadap harta, pengadilannya jauh lebih ketat karena memiliki dua pertanyaan sekaligus: dari mana pintu rezeki itu kita dapatkan dan ke mana setiap rupiahnya kita alirkan. Tidak ada satu sen pun yang luput dari audit Ilahi! Begitu pula dengan raga ini; pemuda yang gagah, fisik yang kuat, serta kesehatan yang melimpah, kelak tubuh kita sendiri yang akan bersaksi di manakah ia dihabiskan hingga menjadi tua dan usang. Apakah ia lelah karena sujud dan berjuang di jalan-Nya, atau justru aus karena mengejar syahwat duniawi yang fana?
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Ketiga : Makna dan nilai kehidupan berupa keluarga, yang kelak juga akan diberhentikan pada batas pemberhentian pertanggung jawabannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surah At-Tahrim ayat yang ke 6,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Terjemahnya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Anak dan istri bukanlah sekadar pelengkap kebahagiaan dunia, melainkan amanah berat yang menuntut pertanggungjawaban di akhirat. Keberhasilan hakiki seorang kepala keluarga bukan diukur dari kecukupan harta dan kemewahan yang ia berikan, melainkan dari sejauh mana ia mampu membentengi keluarganya dengan iman dan ketakwaan. Jangan sampai orang-orang yang paling kita cintai di dunia, justru menjadi penuntut pertama yang menyeret kita ke dalam neraka akibat kelalaian kita membimbing mereka di jalan Allah.
Keempat : Makna dan nilai kehidupan berupa jabatan dan dan kepemimpinan, yang juga kelak akan diberhentikan pada batas pengadilannya, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam,
أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Terjemahnya: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Kelima : Makna dan nilai kehidupan berupa nikmat dan segala macamnya, semua nikmat tersebut yang manusia berbangga-bangga dengannya, akan diberhentikan pada batasnya, untuk semuanya akan ditanya dan diadili. Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surah At-Takasur ayat yang ke 8,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Terjemahnya ; “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Demikianlah beberapa makna dan nilai kehidupan yang akan diberhentikan pada batas pemberhentiannya, untuk kemudian ditanya dan diadili oleh Allah Ta’ala dari apa yang telah mereka perbuat. Semoga jamaah Jum’at yang berbahagia, Allah meringankan dan memudahkan kelak untuk kita semua, dalam menjalani masa pengadilan yang abadi, setelah kita meninggalkan dunia yang singkat dan sebentar ini, Amiin Yaa Rabbal A’lamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Usia akan terus mengejar kehidupan kita, usia akan terus mengikuti hari dan tahun kehidupan kita, dan usia pasti akan berhenti pada batas pemberhentiannya, maka jangan pernah terlambat, apatah lagi berhenti dari memaknai kehidupan dengan kebaikan dan kesalehan, teruslah beramal dengan kemampuan terbaik yang Allah berikan kepada kita, Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surah At-Tagabun ayat yang ke 16,
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Terjemahnya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang baik dan saleh, dalam meniti dan menyelesaikan segala tugas, amanah dan tanggung jawab kehidupan kita di dunia ini, Amiin Yaa Rabbal A’lamiin, dan marilah kita menutup khutbah yang mulia ini dengan memperbanyak berdoa kepada Allah, di hari yang mulia ini, dan di hari yang agung ini.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/PertanggungjawabanDiMahkamah

