JUMAT, 19 Zulhijah 1447 H / 04 Juni 2026 M
Oleh Mukran H. Usman, Lc., M.H.I.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sesungguhnya karunia anak dalam ajaran Islam adalah nikmat dan perhiasan termulia. Mereka adalah penyejuk mata, penenang hati, dan belahan jiwa. Mereka adalah perhiasan masa kini, harapan masa depan, dan investasi terbaik untuk kehidupan setelah kematian.
Allah Ta'ala berfirman:
ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا
Terjemahnya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia [QS. Al-Kahfi: 46].
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Mendidik anak adalah prioritas paling utama dan kewajiban yang paling wajib. Ia adalah tugas pertama keluarga, yang pada dasarnya melekat pada seorang ayah, dan menyatu dengan ibu dalam hal pembentukan dan pengasuhan. Seorang ayah adalah pemimpin bagi anaknya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu [QS. At-Tahrim: 5]
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Perintahkanlah mereka kepada yang ma’ruf dan cegahlah mereka dari yang munkar, dan janganlah kalian membiarkan mereka terlantar sehingga api neraka memakan mereka pada hari kiamat. [Tafsir Ibnu Katsir: 5/240]
Di antara pemahaman yang keliru pada banyak ayah dan ibu adalah bahwa pendidikan hanya terbatas pada memberi makan, minum, memenuhi kebutuhan hidup, serta menyekolahkan anak ke sekolah dan universitas. Padahal, konsep pendidikan itu lebih umum dan menyeluruh, lebih teliti dan sempurna. Tatapan seorang ayah kepada anak-anaknya adalah pendidikan, pembicaraannya dengan mereka dan di hadapan mereka adalah pendidikan, hubungan kedua orang tua satu sama lain juga pendidikan. Dari sikap dan perilaku orang tua, anak-anak menyerap hal-hal yang membentuk kepribadian mereka dan tercetaklah pada diri mereka sifat-sifat itu.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Mengabaikan pendidikan anak, dan lalai dalam mengasuh mereka secara akhlak dan perilaku, adalah durhaka terhadap perintah Allah, durhaka kepada anak-anak, dan kejahatan terhadap mereka. Para orang tua akan dihisab di hadapan Allah pada hari kiamat.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Barangsiapa yang mengabaikan pengajaran terhadap anaknya hal yang bermanfaat baginya, dan membiarkannya begitu saja, maka sungguh dia telah berbuat buruk kepadanya dengan seburuk-buruknya. Kebanyakan kerusakan anak itu datang dari pihak ayah, karena kelalaian mereka terhadap anak-anaknya, dan tidak mengajarkan mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Maka mereka menyia-nyiakan anak-anaknya sewaktu kecil, sehingga anak itu tidak memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan tidak pula memberi manfaat bagi orang tuanya ketika dewasa. [Tuhfatul Maudud: 229]
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sungguh al-Qur’an telah menjelaskan pokok-pokok dan kaidah-kaidah yang wajib dipelajari dan diterapkan oleh kedua orang tua dan para pendidik, serta wajib waspada dari tidak mengetahuinya atau lalai darinya. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama: Menanamkan pengagungan kepada Allah Azza wa Jalla di hati anak, dan membiasakannya untuk merasa diawasi oleh Allah baik dalam keadaan sendiri maupun di hadapan orang lain. Luqman berkata kepada anaknya saat menasihatinya, sebagaimana dalam firman Allah:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
Terjemahnya: Wahai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (Membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui [QS. Luqman: 16].
Dan Nabi saw. telah mengajarkan bagaimana pokok pengagungan Allah kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dengan sabdanya:
يَا غُلامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كلماتٍ، احفظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احفظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجاهَكَ، إذا سألتَ فاسألِ اللهَ، وإذا استَعَنْتَ فاستَعِنْ بالله
Artinya: Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah [HR. Tirmidzi 2516, dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami' 7957].
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Menjadikan anak sebagai hamba Allah Azza wa Jalla adalah kaidah pendidikan paling agung yang wajib ditanamkan, ditumbuhkan, dan disebarkan oleh seorang ayah dalam jiwa anak-anaknya.
Apabila seorang anak sudah bergantung kepada Penciptanya Subhanahu wa Ta'ala, maka sungguh dia telah meraih seluruh kebaikan. Dan pokok ini sangat diperhatikan oleh para Nabi 'alaihimussalam. Allah Ta'ala berfirman tentang wasiat Ya’kub pada anak anaknya:
أمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي
Terjemahnya: Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan tanda-tanda maut (kematian), ketika ia berkata kepada anak-anaknya: Apa yang kamu sembah sepeninggalku? [QS. Al-Baqarah: 133]
Nabi Ya'qub tidak menanyakan apa yang akan mereka makan, atau apa yang akan mereka nafkahkan. Yang beliau inginkan justru mengikat mereka dengan Pencipta mereka, mempersaksikan mereka dan meminta pengakuan mereka bahwa beliau telah menunaikan kewajiban ini terhadap mereka.
Inilah Nabi Allah, beliau tidak melalaikan pokok ini dalam mendidik anak-anaknya, padahal beliau sedang dalam sakaratul maut. Lalu bagaimana dengan sebagian ayah yang melalaikannya, padahal dia dalam keadaan sehat wal afiat!
Kedua: Di antara kaidah-kaidah al-Qur’an dalam mendidik anak adalah, mengajarkan mereka salat, melatih mereka untuk mengerjakannya, memerintahkan mereka dengannya, dan mengajak mereka ke masjid.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Terjemahnya: Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar [QS. Al-Ankabut: 45]
Dan Nabi saw. bersabda:
مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرِ سِنِينَ
Artinya: Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika berumur sepuluh tahun [HR. Ahmad].
Salat adalah cahaya bagi jalan mereka, penjaga bagi anggota tubuh mereka, pelindung bagi agama mereka, dan jaminan bagi akhlak mereka. Kapan saja mereka menjaga salat, maka mereka berada dalam lindungan dan penjagaan Allah Azza wa Jalla.
Nabi saw. bersabda:
مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهو في ذِمَّةِ اللهِ
Artinya: Barangsiapa yang salat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah [HR. Muslim].
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
حَافِظُوا عَلَى أَبْنَائِكُم في الصَّلاةِ، وعَوِّدُوهم الْخَيرَ فَإِنَّ الْخَيرَ عَادَةٌ
Artinya: Jagalah anak-anak kalian dalam urusan salat, dan biasakanlah mereka dengan kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu adalah kebiasaan. [Al-Mu'jam Al-Kabir Ath-Thabrani 9/236]
Ketiga: Mengajarkan mereka al-Qur’an al-Karim sejak kecil, agar al-Qur’an menjadi yang pertama masuk ke hati dan akal mereka, Sehingga lisan mereka menjadi lurus dengannya, hati mereka menjadi tenang kepadanya, dan perilaku mereka menjadi teratur karenanya. Apabila mereka menghadap kepada al-Qur’an al-Karim, maka mereka akan mendapatkan keberkahannya yang menjadi sebab terjaganya mereka dan kebahagiaan mereka.
Allah Ta'ala berfirman:
وَهَذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Terjemahnya: Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat [QS. Al-An'am: 155]
Semoga Allah memberkahi kita semua dengan al Qur’an, dan memberi manfaat dengan sebaik-baik petunjuknya, Aamin Yaa Rabbal Aalamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Ada beberapa perkara yang dapat membantu para ayah dalam mendidik anak-anak mereka, di antaranya:
Pertama: Berdoa untuk anak agar menjadi anak yang saleh dan mendapat hidayah. Doa adalah senjata yang ampuh dalam mendidik anak secara khusus, betapa banyak anak yang perilakunya menjadi baik, akhlaknya menjadi lurus, dan keadaannya berubah karena doa yang tulus dari seorang ayah yang saleh.
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Terjemahnya: Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa [QS. Al-Furqan: 74].
Dan Nabi saw. bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
Artinya: Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan padanya, dan beliau menyebutkan salah satunya, doa orang tua untuk anaknya [HR. Tirmidzi].
Kedua: Kesalehan ayah pada dirinya sendiri, karena pendidikan dengan perbuatan itu lebih mengena dan lebih lurus dibanding pendidikan dengan perkataan. Anak akan meniru ayahnya, mau atau tidak mau. Tabiat itu pencuri, dia mencuri dari orang yang sering bergaul dengannya. Tidak akan lurus bayangan, jika kayunya bengkok, ketahuilah bahwa kesalehan ayah adalah sebab bagi kesalehan anak. Sa'id bin Al-Musayyib pernah berkata kepada anaknya:
لأَزِيدَنَّ في صَلاتِي مِنْ أَجْلِكَ رَجَاءَ أَنْ أُحْفَظَ فِيكَ ثمَّ تلا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
Artinya: Sungguh aku akan menambah salatku karena kamu, dengan harapan agar aku dijaga melalui dirimu. Kemudian beliau membaca ayat: Dan ayah keduanya adalah orang yang saleh [QS. Al-Kahfi: 82]
Para mufassir berkata: Allah menjaga kedua anak itu karena kesalehan ayah mereka. [Tafsir As-Sa'di: 482].
Dan sebagai penutup, wahai para ayah, ibu, dan pendidik, bertakwalah kepada Allah dalam menjaga amanah anak, tunaikanlah apa yang Allah Azza wa Jalla titipkan kepada kita pada anak-anak kita.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/3KunciMendidikBuahHati

