JUMAT, 27 Rabiulakhir 1448 H / 8 Oktober 2026 M
Oleh Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Di antara nasihat paling berharga yang dapat diterima manusia adalah nasihat untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Nasihat ini bukan sekadar pesan yang disampaikan dari satu mimbar ke mimbar yang lain. Ia adalah wasiat Allah kepada umat-umat terdahulu dan kepada kita semua. Allah berfirman:
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
"Sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu agar bertakwa kepada Allah." (QS. An-Nisa': 131).
Salah satu wujud ketakwaan yang sering terlupakan adalah bagaimana kita memperlakukan waktu. Sebab, waktu bukan sekadar sesuatu yang kita miliki. Waktu adalah bagian dari kehidupan kita sendiri. Ketika satu jam berlalu, sesungguhnya bukan hanya jarum jam yang bergerak. Ada bagian dari umur kita yang telah pergi. Ketika matahari terbenam, bukan hanya siang yang berakhir. Ada satu hari dari kesempatan hidup kita yang telah ditutup dan tidak akan pernah dibuka kembali.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Cobalah kita renungkan perjalanan kehidupan kita. Rasanya belum lama kita menjadi anak-anak, bermain tanpa memikirkan beratnya kehidupan. Kemudian kita tumbuh menjadi remaja, memasuki usia dewasa, mulai bekerja, membangun keluarga, dan membesarkan anak-anak. Tanpa terasa, rambut mulai memutih, tenaga tidak lagi sekuat dahulu, dan orang-orang yang pernah mengisi hari-hari kita satu demi satu telah mendahului kita.
Demikianlah sifat waktu. Ia berjalan tanpa menunggu siapa pun. Orang kaya tidak mampu membelinya kembali. Orang berkuasa tidak dapat memerintahkannya berhenti. Orang yang sehat tidak mampu menjamin masih memilikinya esok hari. Setiap manusia diberi kesempatan menjalani hidup, tetapi tidak seorang pun mengetahui berapa banyak kesempatan yang masih tersisa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan tentang betapa singkatnya kehidupan dunia ketika manusia telah berhadapan dengan akhirat:
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
"Pada hari ketika mereka melihatnya (hari Kiamat), mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari." (QS. An-Nazi'at: 46).
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Harta yang hilang masih mungkin dicari. Usaha yang gagal masih mungkin dibangun kembali. Barang yang rusak masih mungkin diperbaiki. Akan tetapi, satu menit yang telah pergi tidak dapat dibeli kembali dengan seluruh kekayaan di dunia.
Karena itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam memanfaatkannya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Al-Bukhari).
Perhatikanlah, Rasulullah tidak mengatakan bahwa hanya sedikit manusia yang menyia-nyiakan dua nikmat tersebut. Beliau mengatakan banyak manusia yang tertipu. Artinya, keadaan ini begitu dekat dengan kehidupan kita. Kita sering merasa bahwa kesehatan akan terus menemani. Kita juga sering menganggap bahwa kesempatan yang ada sekarang akan tetap tersedia pada hari esok.
Ada orang yang dahulu begitu mudah berdiri untuk shalat, tetapi sekarang harus melaksanakannya sambil duduk karena sakit. Ada yang dahulu dapat membaca Al-Qur'an dengan penglihatan yang terang, tetapi kini penglihatannya mulai melemah. Ada yang dahulu mempunyai banyak kesempatan berbakti kepada orang tua, tetapi baru menyadari berharganya kesempatan itu setelah keduanya meninggal dunia.
Kita tentu tidak menginginkan penyesalan semacam itu. Namun, pertanyaannya adalah, sudahkah kita memperlakukan kesempatan yang masih ada hari ini dengan sebaik-baiknya?
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Di zaman sekarang, salah satu ujian terbesar dalam menjaga waktu adalah begitu banyaknya hal yang mampu merebut perhatian kita tanpa terasa.
Kita hidup pada masa ketika hampir seluruh dunia dapat hadir dalam genggaman. Melalui sebuah telepon pintar, kita dapat mengetahui berbagai peristiwa, berkomunikasi dengan banyak orang, mencari ilmu, dan menyelesaikan pekerjaan. Teknologi merupakan sarana yang dapat membawa manfaat besar apabila digunakan dengan benar.
Namun, sarana yang sama juga dapat berubah menjadi pintu kelalaian.
Tanpa disadari, waktu untuk membaca Al-Qur'an semakin sempit. Percakapan bersama keluarga berkurang. Kesempatan menambah ilmu terabaikan. Bahkan, tidak sedikit orang yang membawa kebiasaan memeriksa telepon genggam hingga menjelang tidur, kemudian bangun dengan tubuh lelah dan kesulitan menjaga ibadah di awal waktu.
Sungguh menyedihkan apabila seseorang begitu mengetahui perkembangan kehidupan orang lain, tetapi jarang mengevaluasi perkembangan iman dan amalnya sendiri.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
"Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; hadis hasan menurut sejumlah ulama).
Hadis ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seorang Muslim mengelola perhatiannya. Tidak semua yang menarik perlu kita ikuti. Tidak semua yang ramai perlu kita komentari. Tidak semua yang tersedia perlu kita nikmati. Seorang Muslim perlu belajar membedakan mana yang memberikan manfaat dan mana yang hanya menghabiskan kesempatan hidupnya.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Ada kenyataan yang jauh lebih menggetarkan daripada berlalunya waktu, yaitu datangnya penyesalan ketika kesempatan untuk memperbaiki diri telah berakhir.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan keadaan manusia yang menghadapi kematian. Ketika itu datang, harta tidak lagi menjadi tujuan utama. Jabatan tidak lagi menjadi kebanggaan. Berbagai urusan dunia yang dahulu menyita perhatian seketika kehilangan daya tariknya. Yang diinginkan hanyalah sedikit tambahan waktu untuk beramal saleh.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.
Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, 'Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.'
Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Munafiqun: 9–11).
Perhatikanlah permohonan yang digambarkan dalam ayat tersebut. Orang yang menghadapi kematian tidak meminta tambahan waktu untuk menikmati hiburan yang belum pernah dicoba. Dia tidak meminta kesempatan untuk memperluas rumah atau menambah kekayaan. Dia justru berharap dapat bersedekah dan menjadi bagian dari orang-orang saleh.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Penyesalan bukan hanya digambarkan ketika seseorang menghadapi kematian. Al-Qur'an juga mengabarkan penyesalan yang lebih besar pada hari ketika setiap manusia menerima catatan amalnya. Allah berfirman:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
"Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata, 'Betapa celaka kami! Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya.' Dan mereka mendapati semua yang telah mereka kerjakan tertulis. Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun." (QS. Al-Kahfi: 49).
Bayangkanlah, saudara-saudaraku, suatu hari nanti kita melihat kembali catatan kehidupan yang telah kita jalani. Ada perkataan yang dahulu kita anggap sepele. Ada kesempatan yang pernah kita sia-siakan. Ada kebaikan yang sempat kita lakukan. Ada pula dosa yang mungkin telah kita lupakan.
Di dunia, kita dapat menghapus riwayat pencarian, menghilangkan pesan, dan membersihkan jejak aktivitas dari perangkat yang kita gunakan. Akan tetapi, tidak ada kemampuan manusia untuk menghapus catatan amal di sisi Allah dengan cara-cara semacam itu.
Yang Allah ajarkan kepada kita adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh, meninggalkan dosa, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak amal saleh. Betapa luas rahmat Allah bagi orang-orang yang mau kembali kepada-Nya sebelum terlambat. Karena itu, tidak perlu menunggu sampai seluruh keadaan menjadi sempurna untuk memulai kebaikan. Sebab, boleh jadi hari yang kita tunggu tidak pernah datang.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri sebelum kelak ditanya tentang umur yang kita habiskan. Untuk apa usia yang Allah berikan selama ini? Apa yang telah kita persiapkan untuk perjalanan setelah kematian? Dan apabila hari ini ternyata menjadi Jumat terakhir dalam kehidupan kita, sudahkah kita memiliki bekal yang cukup untuk menghadap Allah?
Semoga pertanyaan-pertanyaan ini tidak berhenti sebagai perasaan sesaat, melainkan melahirkan kesungguhan untuk memperbaiki kehidupan kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah...
Sekali lagi, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjaga kesempatan hidup yang masih kita miliki. Sesungguhnya usia manusia bukanlah sekadar kumpulan tahun, melainkan rangkaian kesempatan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Setiap pagi yang Allah berikan merupakan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin. Setiap malam yang datang merupakan kesempatan untuk merenungkan apa yang telah kita kerjakan sepanjang hari.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan." (Bagian dari hadis riwayat At-Tirmidzi, dinilai hasan sahih oleh beliau).
Karena itu, mulai hari ini, marilah kita belajar mengatur kehidupan dengan mendahulukan perkara yang paling penting. Jagalah shalat lima waktu. Sediakan waktu untuk membaca dan memahami Al-Qur'an. Peliharalah hubungan yang baik dengan keluarga. Tunaikan tanggung jawab pekerjaan dengan amanah. Jauhilah perbuatan yang sia-sia dan lingkungan pergaulan yang terus-menerus menyeret kita kepada kelalaian.
Kepada para orang tua, ajarkanlah kepada anak-anak sejak dini bahwa waktu adalah amanah. Jangan hanya mendidik mereka agar berhasil dalam pelajaran dan pekerjaan, tetapi didiklah pula mereka agar mengenal Allah, mencintai shalat, menghormati sesama, serta terbiasa melakukan perkara yang bermanfaat.
Anak-anak membutuhkan teladan, bukan hanya perintah. Bagaimana mungkin kita berharap mereka tidak menghabiskan waktu sepanjang hari di depan layar, sementara mereka melihat orang tuanya sendiri hampir tidak pernah melepaskan perhatian dari telepon genggam? Bagaimana mungkin kita berharap mereka mencintai Al-Qur'an apabila di rumah mereka jarang menyaksikan orang tuanya membacanya?
Manfaatkanlah pula waktu-waktu kecil yang sering terlewatkan. Saat berjalan menuju masjid, ketika menunggu giliran pelayanan, atau dalam perjalanan menuju tempat kerja, kita dapat mengisi kesempatan itu dengan zikir, doa, atau mendengarkan ilmu yang bermanfaat tanpa mengabaikan keselamatan dan tanggung jawab kita.
Marilah kita mengingat satu kenyataan yang tidak dapat kita hindari. Pada akhirnya, setiap manusia akan meninggalkan rumahnya, pekerjaannya, hartanya, dan seluruh kesibukan dunianya. Orang-orang yang kita cintai akan mengantarkan kita menuju pemakaman, kemudian mereka kembali melanjutkan kehidupan.
Maka, waktumu terlalu berharga untuk sekadar dihabiskan. Ia harus dijaga, disyukuri, dan diisi dengan kebaikan. Jangan sampai kita begitu sibuk mempersiapkan kehidupan yang pasti akan ditinggalkan, sementara lalai mempersiapkan kehidupan akhirat yang tidak akan berakhir.
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDFnya di https://bit.ly/WaktumuTerlaluBerharga

